Nasehat : Syaikh Abu Mus'ab Al-Zarqawi Rohimahumullah
NASEHAT-NASEHAT UNTUK MUJAHIDIN
Syaikh Abû Mus‘ab Al-Zarqawi berkata:
“Segala
puji bagi Alloh; kami memuji, meminta pertolongan dan ampunan
kepada-Nya, dan kami berlindung kepada Alloh dari kejahatan diri serta
keburukan amal perbuatan kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Alloh,
maka tidak ada seorangpun mampu menyesatkannya, dan siapa yang Alloh
sesatkan maka tidak ada seorangpun yang bisa memberinya petunjuk. Dan
aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang haq) selain Alloh;
satu-satu-Nya dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad
adalah hamba dan rosul-Nya; beliau telah menyampaikan risalah,
menunaikan amanah dan menasehati umat, serta meninggalkan mereka di atas
mahajjatul baidho’ (keterangan yang sangat jelas),
malamnya seperti siang, tidak ada yang menyimpang dari keterangan
tersebut kecuali orang yang binasa.
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Alloh dengan
sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan
Islam.” [1]
“Hai
manusia, bertakwalah kepada robb kalian yang telah menciptakan kalian
dari satu jiwa dan menciptakan darinya pasangannya serta mengeluarkan
dari keduanya keturunan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan
bertakwalah kalian kepada Alloh yang (dengan menyebut nama-Nya) kalian
saling meminta serta (peliharalah) tali silaturrohmi. Sesungguhnya Alloh
Mahamengawasi kalian.” [2]
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan katakanlah
perkataan yang lurus. Niscaya Alloh akan memperbaiki amal kalian serta
mengampuni dosa-dosa kalian, dan barangsiapa yang mentaati Alloh dan
rosul-Nya maka sungguh ia telah meraih kemenangan yang besar.” [3]
Tsumma Amma ba‘du…
Sejarah akan terus terulang:
Sejarah
kembali terulang, jalan cerita sejarah dari zaman ke zaman tidak pernah
berubah… manusia dan pemerannya boleh berubah, peralatan-peralatan
boleh berkembang pesat; akan tetapi pentas sejarah tetaplah baku;
kisah permusuhan hanya satu, yaitu kebenaran melawan kebatilan, Islam
memerangi kekafiran, kejahilaya-han, dan kemunafikan yang terselu-bung.
Adapun orang-orang lemah dan benyali rendah, mereka memegang tongkat
pada bagian tengahnya; satu sisi ia menyatakan bergabung dengan umatnya,
tapi di sisi lain ia lebih mengedepankan kepentingan dunia-nya sembari
menunggu kabut tersingkap dan peperangan berakhir; dengan maksud ingin
bergabung dengan kelompok yang kuat dan menumpang kapal fihak yang
menang, sungguh teramat jelek apa yang diperbuat orang-orang seperti
ini.
Tapi
mereka dihentikan oleh orang-orang robbaniyyuun, yang mengangkat
bendera di zaman kerusakan, mengangkat kepala di zaman kehinaan, tekat
mereka mengarungi angkasa, pergi menuju Alloh, Dzat Yang Maha melihat
lagi Maha mendengar, meneladani Sang pembawa peringatan dan kabar
gembira, Muhammad Shollallohu Alaihi wa Sallam, mereka orang-orang asing
yang wajahnya hangus terbakar angin keterasingan, kaki mereka yang
tanpa alas kaki meneteskan darah di sahara yang berkobar oleh api
permusuhan, tidak ada pintu yang mau menerima mereka sehingga mereka
mengetuk pintu langit, lalu dibukalah pintu tersebut untuk mereka,
langsung dari tengah-tengah surga untuk menghidupkan hati, tersirat
kegembiraan iman dalam diri mereka, sehingga tidak ada seorangpun dari
mereka yang mundur, karena mereka marah demi agamanya, walaupun seluruh
dunia bersatu-padu membidiknya.
Jihad adalah solusi!
Ummatku…
Sungguh
bahaya telah mencapai klimaksnya, orang-orang dzalim telah melampaui
batas, di negeri kita bertebaran orang-orang jahat, serigala-serigala,
bahkan anjing-anjing, mereka telah berani lancang kepada kita. Di sisi
lain, manusia tengah kebingungan mencari solusi di tengah fatamorgana padang pasir, padahal solusi itu ada di hadapan mata mereka! Solusi itu adalah jihad fi sabilillah.
Inilah
wasiat-wasiat para imam jihad yang telah mendahului kita dalam menempuh
jalan penuh berkah ini, yang akan kusampaikan kepada kalian. Aku
sengaja menyusunnya dengan sedikit merubah susunan kata-katanya; dengan
harapan ini akan menjadi peringatan untuk diriku sendiri dan
ikhwan-ikhwanku para mujahidin, agar mereka tetap teguh, dan untuk
mengajak mereka mempertahankan kesabaran dalam memegang prinsip serta
ajaran Islam yang baku.
Lemah nyali dan perbuatan maksiat, menunda kemenangan:
Wahai para mujahidin…
Aku
sama sekali tidak mengkhawatirkan banyaknya musuh kalian dan besarnya
senjata mereka, aku tidak mengkhawatirkan kalian lantaran berkumpulnya
seluruh kekuatan jahat memerangi kalian, atau sikap melemah-kan semangat
dari saudara-saudara kalian sesama muslim di berbagai belahan dunia;
yang aku khawatirkan justru dari diri kalian sendiri, aku khawatir
kalian terkena penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati), merasa lemah dan kalah, kemudian banyak melakukan maksiat.
Kalian bisa mengambil pelajaran dari peristiwa perang Uhud, Alloh Ta‘ala berfirman:
“…sampai
pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan bermaksiat
kepada perintah (Rosul) sesudah Alloh memperlihatkan kepadamu apa yang
kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara
kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Alloh memalingkan kamu
dari mereka untuk menguji kamu…” [4]
Ibnu Katsir berkata, “Tadinya
keunggulan dan kemenangan berada di fihak Islam pada pagi harinya, tapi
tatkala para pemanah bermaksiat dan sebagian pasukan merasa gagal,
janji kemenanganpun tertunda, di mana datangnya kemenangan ini
disyaratkan adanya keteguhan dan sikap taat.”
Peristiwa
Uhud ini sungguh telah menorehkan peristiwa yang menakjubkan, antara
lain: jumlah musuh tiga kali lipat lebih banyak daripada jumlah kaum
muslimin, lalu Alloh memenangkan kaum muslimin di pagi hari; tapi
tatkala mereka bermaksiat, Alloh timpakan musibah di sore hari.
Shahabat
Jâbir Radhyilallohu ‘Anhu berkata, “Ketika perang Uhud, manusia
bercerai berai dari sisi Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, yang
tinggal menyertai beliau hanya 13 orang Anshor dan Tholhah.”
Dalam
hadits Anas Radhyilallohu ‘Anhu ia berkata, “Ketika pecah perang Uhud,
kaum muslimin tercerai berai. Maka Anas bin Nadhr berkata, ‘Ya Alloh,
aku memohon udzur kepada-Mu dari perbuatan shahabat-shahabatku, dan aku
berlepas diri kepada-Mu dari perbuatan orang-orang musyrik itu.’”
Dulu,
setelah pulau Qibrish ditaklukkan, Abu `d-Darda’ duduk sambil menangis
tatkala menyaksikan penduduknya menangis dan dalam kondisi kacau balau.
Maka ada yang bertanya, “Wahai Abu `d-Darda’, apa yang membuatmu
menangis di hari ketika Alloh memuliakan Islam?” beliau menjawab,
“Celakalah kalian, alangkah rendahnya makhluk di sisi Alloh ketika
mereka meninggalkan perintah-Nya, padahal mereka dulu adalah bangsa yang
menang dan kuat, mereka meninggalkan perintah Alloh dan akhirnya
menjadi seperti yang kalian lihat.”
Tamkîn hanya datang setelah ujian:
Wahai para mujahidin…
Memang,
pertolongan kadang tertunda, tak jarang kekalahan dan luka-luka terjadi
pada barisan kalian, dan ini bukanlah hal yang aneh. Sebab itu adalah
sunnatulloh pada orang-orang terdahulu. Dan tidak ada perubahan pada sunnatulloh.
Heraklius
berkata kepada Abu Sufyan: “Aku tadi bertanya kepadamu tentang
bagaimana kalian memerangi orang itu –yang ia maksud adalah Rosululloh
Shollallohu Alaihi Wa Sallam— lantas engkau katakan bahwa peperangan itu
silih berganti (kadang menang kadang kalah); memang seperti itulah
keadaan para rosul; mereka diuji kemudian kemenangan akhir ada di tangan
mereka.”
Sungguh,
ujian terberat bagi kalian ketika memerangi musuh adalah bersabar dan
yakin. Yakin bahwa Alloh akan menepati janji-Nya, menolong tentara dan
pasukan-Nya, walaupun setelah lewat masa yang panjang. Dan sabar ketika
mengalami kegoncangan-kegonca-ngan, dan yakin bahwa jalan keluar ada
bersama kesulitan, dalam kesuli-tan ada kemudahan.
Ada
seseorang bertanya kepada Imam Syafi‘i, “Wahai Abu Abdillah, mana yang
lebih baik bagi seseorang; diberi kekuasaan ataukah diuji?” Maka Imam
Syafi‘i menjawab, “Ia tidak akan diberi kekuasaan sebelum diuji.”
Sesungguhnya
Alloh telah menguji Nabi Nuh, Ibrohim, Musa, Isa, dan Muhammad –semoga
sholawat dan salam tercurah selalu kepada mereka—, tatkala mereka
bersabar, Alloh pun memantabkan kedudukan mereka di muka bumi. Maka
jangan ada seorangpun menyangka bisa terlepas dari kepedihan!
Kelirulah
orang yang berburuk sangka kepada Alloh, di mana ia hanya melihat
kepada jumlah dan peralatan yang dimiliki musuh dengan melupakan janji
Alloh;
“…Alloh telah tetapkan: Aku pasti memenangkan diri-Ku dan rosul-rosul-Ku,” [5]
“…Barang
siapa berwali kepada Alloh, rosul-Nya, dan orang-orang beriman, maka
sesungguhnya pasukan Alloh lah orang-orang yang menang.” [6]
“Adalah kewajiban Kami menolong orang-orang beriman,” [7]
“Dan
Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan
menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana menjadikan berkuasa
orang-orang sebelum mereka, dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama
yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah
(keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman
sentausa…” [8]
Di
sini ada syarat sebelum mendapatkan janji, yaitu iman, ikhlas (tidak
menyekutukan Alloh), dan beramal sholeh, barulah datang kemenangan,
kekuasaan, dan ke-khilafahan di muka bumi, “Itulah janji Alloh, Alloh tidak menyelisihi janji-Nya.” [9]
Sungguh indah apa yang dikatakan Sayyid Quthb Rahimahulloh ketika mengomentari firman Alloh:
“Betapa banyak kelompok yang sedikit bisa mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Alloh…” [10]
Beliau
berkata, “Ayat ini adalah kaidah dalam perasaan orang-orang yang yakin
bahwa mereka pasti akan berjumpa dengan Alloh, kaidah ini menyatakan
bahwa kelompok orang-orang beriman itu sedikit, sebab kelompok inilah
yang bisa menapaki tangga ujian yang berat hingga puncaknya, sehingga
mereka mencapai predikat sebagai pasukan pilihan. Meski sedikit, tapi
merekalah yang menang, sebab mereka memiliki kontak dengan sumber segala
kekuatan, dan mewakili kekuatan yang pasti menang; yaitu kekuatan Alloh
yang pasti memenangkan urusan-Nya, Dzat Yang Mahapemaksa di atas
hamba-hamba-Nya, yang menghancurkan orang-orang bengsis, menghinakan
orang-orang dzolim, dan menundukkan orang-orang sombong.”
Orang-orang yang terlibat dalam jihad adalah kaum yang beruntung:
Wahai mujahidin…
Demi
Alloh, kalian dalam kondisi yang sangat beruntung sehingga banyak orang
yang patut iri kepada kalian. Bukan seperti dikatakan para mukhodzil
dan pelemah semangat yang hanya melihat pada ukuran materi saja, yang
merasa ngeri dengan berita-berita yang disebar luaskan media-media
informasi di seluruh dunia dan arab, yaitu kemenangan pasukan sekutu dan
mundurnya para mujahidin. Sungguh, perang tidak diukur dengan jumlah
dan persenjataan, bukan dengan kemenangan dan keunggulan. Sebab itu
kemungkinan-kemungkinan yang pasti terjadi. Tetapi, di suatu hari nanti
kemenangan dan kekuasaan di muka bumi akan datang jua, walaupun setelah
waktu yang lama.
Ketika
menceritakan kondisi persekutuan pasukan Tartar, orang-orang munafik,
dan lain sebagainya, untuk menyerang kaum muslimin di zamannya, Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh berkata,
“Fitnah ini telah memecah manusia kepada tiga kelompok:
1. Thô’ifah Manshûroh (kelom-pok yang ditolong Alloh); mereka adalah para mujahidin yang berjihad melawan bangsa perusak itu.
2. Thô’ifah Mukhôlifah
(ke-lompok yang menyelisihi); mereka adalah orang-orang berpikiran
kacau yang bergabung dengan pasukan Tartar tapi masih mengaku muslim.
3. Thô’ifah Mukhôdzilah (ke-lompok
pelemah semangat dan tidak mau membantu mujahidin); mereka adalah
orang-orang yang duduk dari jihad melawan Tartar, walaupun keislaman
mereka benar.
Maka hendaknya setiap muslim melihat di mana posisi dirinya, apakah termasuk Thô’ifah Manshûroh, Thô’ifah Mukhôdzilah, ataukah Thô’ifah Mukhôlifah;
karena tidak ada kelompok yang keempat. Dan ketahuilah, dalam jihad ada
kebaikan di dunia dan akhirat. Sedangkan meninggalkannya adalah
kerugian dunia akhirat. Alloh Ta‘ala berfirman:
“Katakanlah (Hai Muhammad): Kalian tidak menunggu dari kami selain dua kebaikan,” [11] dua kebaikan itu adalah kemenangan atau kesyahidan dan surga.
Maka
siapa saja yang hidup bersama mujahidin, ia adalah orang mulia dan
berhak mendapatkan pahala di dunia serta kebaikan pahala akhirat. Bagi
yang meninggal atau terbunuh, ia akan menuju surga.
Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,
(يُعْطَى
الشَّهِيْدُ سِتَّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ بِأَوَّلِ قَطْرَةِ دَمٍ مِنْ
دَمِهِ , وَيَرَى مَقْعَدَهُ فيِ اْلجَنَّةِ, وَيُكْسَى حُلَّةً مِنَ
اْلإِيْمَانِ, وَيُزَوَّجُ بِثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِنَ الْحُوْرِ
الْعِيْنِ, وَيُوْقَى فِتْنَةَ الْقَبْرِ, وَيُؤْمَنُ مِنَ اْلفَزَعِ
اْلأَكْبَرِ)
“Orang
yang mati syahid diberi enam perkara: Dosanya di ampuni ketika pertama
kali darahnya menetes, diperlihat-kan tempatnya di surga, diberi pakaian
keimanan, dinikahkan dengan 72 bidadari bermata jeli (huurun ‘Iin),
dilindungi dari fitnah kubur, dan diamankan dari kegoncangan hari
kebang-kitan.”
Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam juga bersabda,
(إِنَّ
فِي الْجَنَّةِ لَمِائَةَ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ الدَّرَجَةِ وَالدَّرَجَةِ
كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ أَعَدَّهَا اللهُ تَعَالىَ
لِلْمُجَاهِدِيْنَ فيِ سَبِيْلِهِ)
“Sesungguhnya
di surga ada 100 derajat, jarak satu derajat dengan derajat lainnya
sama dengan jarak langit dan bumi, yang Alloh Ta‘ala sediakan bagi para
mujahidin di jalan-Nya.” [12]
Inilah ketinggian derajat di surga sejauh 50.000 tahun [13] perjalanan, bagi orang-orang yang berjihad…”
Hingga Syaikhul Islam mengatakan,
“Para
ulama juga telah sepakat –sejauh yang kuketahui— tidak ada amalan
sunnah yang lebih baik daripada jihad; jihad lebih baik daripada ibadah
hajji, puasa, dan sholat, yang sunnah. Berjaga di perbatasan (ribath)
lebih baik daripada tinggal di Mekkah, Madinah, atau Baitul Maqdis.
Sampai-sampai Abu Huroiroh ra mengatakan: Sungguh berjaga-jaga (ribath)
di jalan Alloh satu malam saja lebih aku sukai daripada aku berada di
samping Hajar Aswad ketika Lailatul Qodar.
Di sini, beliau lebih memilih ribath satu malam daripada beribadah di malam terbaik dan di jengkal tanah terbaik.”
Beliau
berkata, “Ketahuilah, semoga Alloh memperbaiki Anda semua, bahwa
kemenangan itu milik orang-orang beriman, hasil akhir milik orang-orang
bertakwa, dan Alloh bersama orang-orang bertakwa lagi berbuat baik.
Musuh itu pada dasarnya tertundukkan dan tertindas, Alloh Ta‘ala adalah
Dzat yang meme-nangkan kita atas mereka, membalaskan dendam kita kepada
mereka, dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Alloh Yang
Mahatinggi lagi Mahaagung. Maka terimalah kabar gembira berupa
pertolongan Alloh Ta‘ala dan hasil akhir yang baik, “Dan janganlah kalian merasa hina dan sedih, padahal kalian adalah lebih tinggi jika kalian beriman.” [14]
Selanjutnya
beliau berkata lagi, “Ketahuilah –semoga Alloh senantiasa memperbaiki
diri kalian—, nikmat terbesar bagi orang yang Alloh ‘Azza Wa
Jallaehendaki kebaikan pada dirinya adalah ketika Alloh menghidupkannya
sekarang ini, di zaman ketika Alloh tengah memperbaharui agama-Nya,
menghi-dupkan kembali syiar kaum muslimin, menghidupkan ihwal kaum
mukminin dan para mujahidin; sehingga keadaannya mirip dengan
As-Sabiqunal Awwalin dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Maka siapa saja
yang melaksanakan semua ini di zaman sekarang, berarti ia termasuk
orang-orang yang mengikuti jejak mereka dalam kebaikan. Maka sudah
selayaknya kaum mukminin bersyukur kepada Alloh atas ujian yang pada
hakikatnya adalah anugerah mulia dari Alloh Ta‘ala ini, seharusnya
mereka mensyukuri terjadinya fitnah yang di dalamnya mengandung nikmat
besar ini. Hingga seandainya para shahabat As-Sabiqûnal Awwalûn dari
kalangan Muhajirin dan Anshor, seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali,
dan yang lainnya, mereka hadir di tempat ini, tentu amalan paling utama
yang mereka lakukan adalah berjihad melawan orang-orang jahat itu. Dan
tidak ada yang ketinggalan dari peperangan seperti ini selain orang yang
merugi perdagangannya, dungu jiwanya, dan diharamkan untuk mendapatkan
bagian besar dari dunia dan akhirat; kecuali orang yang mendapatkan
udzur dari Alloh, seperti orang sakit, fakir, buta, dan lain
sebagainya.”
Syaikhul Islam juga mengatakan,
“Puncak Islam
adalah jihad di jalan Alloh, sesungguhnya jihad adalah perkara dicintai
Alloh dan rosul-Nya yang paling tinggi. Dan orang-orang yang mencela
jihad ini banyak jumlahnya. Sebab kebanyakan orang yang di dalam hatinya
ada iman sekalipun, mereka membenci jihad. Kemungkinannya, kalau bukan
sebagai mukhodzil yang melemahkan semangat dan keinginan untuk berjihad,
atau menjadi pembuat kekacauan dan pelemah kekuatan dan kemampuan untuk
melaksanakannya. Walaupun, perbuatan tersebut termasuk kemunafikan.”
Kondisi dunia Islam sekarang, hampir sama dengan ketika Pasukan Tartar dulu menyerang Dunia Islam:
Wahai mujahidin…
Aku
tidak menemukan sesuatu yang lebih baik untuk kuketengahkan di hadapan
kalian, selain tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika beliau
mengomentari persekutuan pasukan Ahzab dalam perang Khondaq. Beliau
berkata, “Ringkasan cerita perang Khondaq, bahwa kaum muslimin terkepung
oleh seluruh kaum musyrikin di sekeliling mereka. Mereka datang dengan
bala tentaranya ke Madinah untuk membasmi orang-orang beriman hingga ke
akar-akarnya. Maka berkumpullah kaum Quraisy dan sekutu-sekutunya dari
Bani Asad, Asyja‘, Fazaroh, dan kabilah-kabilah Nejd
lainnya. Turut bergabung juga yahudi Bani Quroidzoh dan Bani Nadzir.
Pasukan sekutu ini berkumpul menjadi satu dan jumlah mereka jauh
berlipat ganda di atas jumlah kaum muslimin. Sampai-sampai Nabi
Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam harus meng-ungsikan orang-orang lemah dari
wanita dan anak-anak ke benteng-benteng Madinah.
Sedangkan
kejadian sekarang ini –maksudnya, yang dialami Syaikhul Islam di
zamannya—musuh kembali bersekutu, sejak dari bangsa Mongol, berbagai
suku Turki, Persia, orang-orang Arab pendatang, orang-orang sejenis
dengan mereka yang murtad, dari kalangan kristen Armenia dan lain-lain.
Musuh ini masuk ke sisi negeri kaum muslimin ketika kaum muslimin tengah
bimbang antara maju dan mundur, ditambah lagi dengan sedikitnya jumlah
kaum muslimin lain yang mau berhadapan dengan musuh, padahal musuh
hendak menguasai negeri dan mengambil alih daerah penduduknya
sebagaimana musuh dulu mengepung Madinah berhadapan dengan kaum
muslimin. Dan ketika perang Khondaq terjadi, suhu udara teramat dingin,
tiupan angin begitu kencang dan tidak seperti biasanya. Dengan itulah
Alloh memalingkan pasukan Ahzab dari Madinah, sebagaimana firman Alloh
Ta‘ala ini:
“…maka Kami kirim kepada mereka angin dan pasukan-pasukan yang tidak kalian lihat…” [15]
Demikian
juga tahun ini di sini, Alloh memperbanyak salju, hujan, dan hawa
dingin tidak seperti biasanya, sampai-sampai banyak orang yang tidak
menyukai hal ini. Adapun kami, kami katakan kepada mereka yang tidak
suka: Jangan kalian benci hal itu, sebab Alloh memiliki hikmah dan
rahmat di dalamnya. Dan itu termasuk sebab terbesar di mana dengannya
Alloh mengusir musuh.
Alloh Ta‘ala berfirman mengenai kondisi pasukan Ahzab:
“(Yaitu)
ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika
tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke
tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Alloh dengan bermacam-macam
pur-basangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan
(hatinya) dengan goncangan yang sangat.” [16]
Demikian juga tahun ini, musuh datang dari atas daerah Syam, yaitu selatan sungai Eufrat…”
Syaikhul Islam melanjutkan, “…kemudian manusia mulai berprasangka kepada Alloh dengan berbagai purbasangka;
- Ada yang menyangka tidak ada lagi tentara Syam yang masih tegak berdiri, sehingga musuh akan menguasai penduduk Syam
- Ada yang menyangka bahwa negeri Syam ma-sih tenang dan masih berada di bawah kerajaan Islam.
- Ada
yang menyangka kalau kaum muslimin mau menghadapi musuh, tentu akan
bisa merontokkan dan menguasai mereka seperti lingkaran cahaya bulan
mengelilingi bulan.
- Ada yang memiliki persangkaan musuh akan menawan mereka dan membawanya ke Mesir dan mengangkat sebagai penguasa di sana,
sehingga orang-orang seperti ini tidak ada yang teguh untuk berhadapan
dengan musuh, ia lebih berniat untuk melarikan diri ke Yaman atau yang
lain.
- Ada
juga yang melihat adanya gejala-gejala yang saling bertentangan dan
memiliki keinginan-keinginan yang saling tarik menarik, apalagi ia tidak
bisa membedakan mana kabar gembira yang benar dan yang dusta, tidak
bisa membedakan bisikan hati yang salah dan yang tepat; oleh karena itu,
orang yang bermain-main dalam urusan mengam-bil petunjuk akan diliputi
kebingu-ngan dan dipermainkan oleh berbagai pemikiran, seperti halnya
anak kecil mempermainkan kerikil bebatuan.
“…Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat…” ; Alloh menguji mereka dengan ujian ini, yang dengannya Alloh mengha-puskan dosa-dosa mereka dan mengangkat derajat mereka.
Kemudian Alloh Ta‘ala berfirman: “Dan
(ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: Hai penduduk
Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu…” [17]
- Maka
satu golongan kaum munafik itu ada yang mengatakan: Tidak ada tempat
lagi bagi kalian di sini, sebab musuh terlalu banyak, maka kembalilah ke
Madinah.
- Ada
yang mengatakan, “Tidak ada tempat bagi kalian untuk berperang, maka
kembalilah untuk meminta keamanan dan perlindungan kepada mereka.”
Demikian juga ketika musuh dari bangsa Tartar datang, orang-orang munafik ada yang mengatakan:
- Negara Islam sudah tidak ada lagi, maka sudah selayaknya kita masuk di bawah negara Tartar.
- Sebagian orang-orang khusus mengatakan, negara Islam masih bertahan.
- Sebagian
lagi ada yang mengatakan, yang terbaik adalah menyerahkan diri kepada
mereka seperti penduduk Irak menyerahkan diri dan masuk di bawah
kekuasaan mereka.”
—hingga perkataan Syaikhul Islam—:
“Sesungguhnya
peristiwa ini mengandung perkara-perkara besar yang di luar batas
ukuran serta keluar dari kebiasaan. Bagi setiap yang berakal akan
melihat bagaimana Alloh memperkokoh agama ini dengan kejadian tersebut,
dan perhatian-Nya terhadap umat ini setelah hampir saja Islam tergulung,
ketika sebab-sebab yang tampak secara lahiriyah sudah terputus, musuh
dari pasukan sekutu menyerang begitu cepat, hati kaum muslimin melemah
karena saling bermusuhan, sementara yang tetap teguh hanyalah satu
kelompok yang mau menolong agama Alloh, sehingga Allohpun membukakan
pintu-pintu langit-Nya untuk tentara-tentara-Nya yang kuat, Alloh
menghinakan orang-orang kafir dan munafik dan menjadikan semua itu
sebagai tanda kekuasaan Alloh bagi orang-orang beriman hingga hari
perjumpaan dengan-Nya.”
Tatkala
sampai berita bahwa pasukan Tartar sudah menyiapkan semua persenjataan
untuk menyerang Syam, orangpun pada ketakutan, harga transportasi
menjadi mahal; upah kuda dari Hamasah ke Damaskus saja mencapai harga
200 dirham.
Ini terjadi tahun 699 H.
Sebagian
gubernur berpanda-ngan untuk menyerahkan benteng Al-Qol‘ah kepada
Tartar, demi menjaga penduduk. Tetapi Ibnu Taimiyah tetap bersikukuh
untuk melawan mereka dan meminta penjaga benteng untuk tidak
menyerahkannya, walaupun tidak tersisa lagi selain satu bongkah batu;
maka penjaga bentengpun menyetujui pendapat Ibnu Taimiyah, dan ternyata
ada mashlahat yang baik bagi kaum muslimin dalam sikap ini.
Kemudian
datang berita mengenai kedatangan pasukan Mesir menuju Syam, maka
Hulaghu bersama pasukan Tartarnya keluar menuju Damaskus. Sementara
Damaskus sendiri sudah kosong dari tentara dan penjaga. Maka, seluruh
penduduknya diseru untuk keluar membawa senjata masing-masing dan
bermalam di pagar-pagar benteng serta pintu-pintu masuk untuk menjaga
negeri, maka merekapun keluar menuju pagar benteng.
Ibnu
Taimiyah sendiri berkeliling di benteng setiap malam untuk memberikan
semangat agar bersabar dan terus berperang, serta membacakan ayat-ayat
jihad dan ribath kepada mereka.
Ketika
kehidupan di Damaskus kembali normal, Ibnu Taimiyah dan pengikutnya
berkeliling ke warung-warung, lalu memecahkan bejana-bejana khomer.
Setelah itu, Ibnu Taimiyah dengan didampingi Al-Atsrom –gubernur
Damaskus—keluar ke daerah Jubailah dan Kasrowan untuk memberi pelajaran
kepada kaum Rafidhoh (Syiah) dan Bathiniyah, karena keterlibatan mereka
membantu pasukan Tartar. Mereka juga ikut menyerang kaum muslimin di
malam hari. Maka para pemimpin mereka keluar menemui Ibnu Taimiyah dan
menampakkan ketaatan serta penyesalannya. Mereka juga mengembalikan
semua barang yang telah mereka ambil. Setelah selesai, Al-Atsrom kembali
ke Damaskus dan mengeluarkan perintah agar rakyat menggantungkan
senjata-senjata di toko-toko, dan memerintahkan mereka untuk belajar
memanah. Akhirnya, dibangunlah Al-Imajat –yaitu kamp-kamp latihan
militer di Damaskus—. Ia juga memerintahkan para ulama untuk turut
belajar memanah, dalam rangka persiapan menghadapi situasi apapun yang
datang mendadak.
Demikianlah,
umat ini wajib melakukan persiapan di waktu senggang, supaya ketika
terjadi peristiwa-peristiwa dahsyat, ada anak-anak dari umat ini yang
menghadapi, melindungi, serta menolak makar musuh terhadapnya.
Pasukan
Tartar masuk ke Syam pada tahun 702 H, manusiapun gempar ketakutan,
mereka melaku-kan doa qunut dalam sholat, dan itulah pertempuran pertama
kali yang mereka alami, datanglah pasukan Tartar yang didukung oleh
7000 personel, maka sekelompok pahlawan negeri Syam berjumlah 1500 orang
menghadapi mereka, dan Alloh pun memenangkan pasukan-Nya.
Ketika
pasukan Tartar sudah semakin dekat, dua pasukan –yaitu dari Himawi dan
Al-Halbi— mundur ke Himsh, mereka takut pasukan Tartar akan menyerang
mereka secara tiba-tiba, maka merekapun berjaga-jaga di daerah Marji
Ash-Shuffar. Dan benar, pasukan Tartar sampai di Himsh, kemudian
merangsek ke Ba‘labak, manusia diguncang rasa takut luar biasa,
berita-berita negatif dan berbagai isu banyak sekali tersebar. Maka
dalam hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memiliki andil besar dalam
menenangkan jiwa orang-orang dan menjaga kestabilan kondisi intern kaum
muslimin.
Beberapa
waktu kemudian, orang mulai meragukan sah tidaknya memerangi bangsa
Tartar secara syar‘i; sebab mereka juga berpenampilan Islam tulen.
Keraguan ini sama dengan sikap orang-orang yang kalah sebelum tempur
hari ini, yang mana mereka meragukan sah tidaknya memerangi tentara
pemerintah Thoghut.
Ibnu Hazm berkata dalam kitab Al-Muhallâ,
“Tidak ada kejahatan yang lebih besar setelah kekafiran, daripada
melarang jihad di jalan Alloh dan menyuruh agar kehormatan kaum muslimin
diserahkan begitu saja kepada musuh-musuh Alloh.”
Kemudian,
Ibnu Taimiyah tampil dan mengeluarkan fatwa-fatwanya yang cukup
terkenal mengenai wajibnya memerangi pasukan Tartar. Beliau mematahkan
semua syubhat yang banyak didengungkan kaitannya dengan masalah ini.
Beliau mengatakan kepada manusia, “Jika kalian melihatku berada di fihak
Tartar sementara di kepalaku ada mushaf Al-Quran, maka bunuhlah aku,”
Mendengar fatwa ini, manusia-pun kembali bersemangat untuk berperang, hati mereka kembali kuat.
Ketika
pasukan Tartar semakin dekat, Ibnu Taimiyah menoleh kepada salah
seorang petinggi Syam, beliau berkata, “Hai Fulan, tempatkan aku di
posisi kematian,”
Petinggi
itu berkisah, “Maka aku menempatkan Ibnu Taimiyah di depan musuh
persis, ketika itu mereka datang berbondong bondong seperti aliran ombak
dengan menenteng senjata-senjatanya yang berkilauan di balik debu
perang. Kukatakan: Tuanku, inilah posisi kematian dan inilah musuh,
mereka datang di balik debu itu.”
Syaikhul Islam pun mengangkat matanya ke langit dan memejamkan pandangannya, dan menggerak-gerak kan
kedua bibirnya untuk berdoa kepada robbnya dalam waktu cukup lama. Maka
beliau bertempur melawan pasukan Tartar, perang berlangsung
sangat-sangat sengit, api pertempuran berkobar menyala-nyala, para
pahwalan menunjukkan keperwiraannya, dan pasukan Tartar dipaksa mundur
ke gunung-gunung. Setelah hari mulai gelap, kaum muslimin mengepung
pegunungan di mana pasukan Tartar berada, sungguh hati pasukan Tartar
kala itu terhinggapi ketakutan luar biasa.
Yang mampu menegakkan Islam adalah orang-orang yang bertekad baja:
Wahai mujahidin…
Sesungguhnya
agama ini tidak akan tegak kecuali di atas pundak para perwira yang
memiliki tekad baja. Ia tidak akan pernah tegak di atas pundak
orang-orang yang biasa hidup ringan dan bermewah-mewah. Tidak, sungguh
Islam tidak akan tegak di atas pundak orang-orang seperti ini.
Agama
yang besar tidak akan tegak kecuali di atas pundak orang-orang besar
pula. Tanggung jawab besar yang tidak sanggup dipikul langit dan bumi,
tidak mungkin diemban oleh selain orang yang pantas mengembannya.
Wahai merpati, kalau kamu menangis karena anak kecilmu
Lantas di manakah pemirsa kesedihan-kesedihan
Manakah yang layak menitikkan air mata, mataku atau matamu?
Orang yang mengaku tidak diterima pengakuannya tanpa bukti…
Bagaimana
mungkin Islam akan tegak dan kembali kepada kejayaan dan kemuliaannya
seperti dulu, tanpa adanya tekad baja seperti tekad Abu Bakar untuk
memerangi kaum murtad di zaman banyaknya orang murtad dulu? Ketika Abu
Bakar, orang yang sudah tua, peka perasaannya dan mudah menangis itu,
bersumpah menyatakan tekad terbesarnya, “Demi Alloh, aku benar-benar
akan perangi siapa yang memisahkan antara sholat dan zakat.
Sesungguh-nya zakat adalah hak harta. Demi Alloh, seandainya mereka
menolak kepadaku untuk membayar satu ikatan binatang yang dulu mereka
bayarkan kepada Rosululloh –‘alaihis sholatu was salam—pasti akan kuperangi mereka karenanya.”
Bagaimana
mungkin Islam akan tegak tanpa adanya tekad seperti tekad Anas bin
Nadhr, yang mengatakan: “Kalau Alloh menghadir-kanku dalam perang
melawan orang-orang musyrik, Alloh pasti akan melihat apa yang akan
kuperbuat.”
Akhirnya
ia hadir dalam perang Uhud, lalu ia berperang, sampai ketika mati di
jasadnya ditemukan 80 luka lebih, mulai dari tikaman dan tebasan pedang.
Adalah Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam selalu berdoa kepada robbnya:
(اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فيِ اْلأَمْرِ وَاْلعَزِيِمَةَ عَلىَ الرُّشْدِ)
“Ya Alloh, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan apapun dan tekad kuat di atas kelurusan.”
Sungguh,
sebuah tekad yang tinggi benar-benar bisa mendidih dalam hati seperti
mendidihnya air dalam periuk. Tekad seperti ini benar-benar mendorong
pemiliknya untuk melakukan perkara-perkara besar setiap pagi dan sore,
sehingga ia bisa menjadi orang yang disebutkan dalam perkataan Imam
Syafi‘i Rahimahullôh, “Istirahat bagi ‘para lelaki’ adalah kelalaian.”
Inilah
shahabat bernama ‘Abdullôh bin Jahsy, ia pernah menjauh sedikit di
samping Sa‘ad bin Abi Waqos sebelum pecah perang Uhud; keduanya sepakat
untuk bergantian memanjatkan doa dan saling mengamini. Maka doa yang
dipanjatkan ‘Abdullôh bin Jahsy adalah:
“Ya
Alloh, berilah aku rezeki berupa seorang lelaki yang keras amarahnya,
besar kekuatannya, yang aku berperang dengannya dan dia berperang
denganku, kemudian ia membunuhku dan memotong hidung dan telingaku,
sehingga ketika aku berjumpa dengan-Mu kelak, ya Alloh, Engkau bertanya:
Hai ‘Abdullôh, karena apa hidung dan telingamu terpotong? Maka aku
menjawab: Karena-Mu dan karena Rosul-Mu. Lalu Engkau berfirman: Kamu
benar.”
Betapa
agung dan indah doa ini, sungguh itulah jiwa yang menjual segalanya
untuk robbnya, ketika itulah kepahitan berubah menjadi kemanisan,
sungguh itu tidak terjadi selain dari orang yang telah merasakan
manisnya jalan ini dan merasakan kelezatannya. Ia tidak lagi
mempedulikan apa pun selain keridhoan robb-nya, ia tidak lagi peduli
selain bagaimana bisa berjumpa Alloh dalam keadaan Dia ridho dan
terbunuh di jalan-Nya.
Siapakah di antara kita yang hendak meniru tekad-tekad baja seperti ini?
Siapakah di antara kita yang hendak meniru tekad Ahmad bin Hanbal,
Ibnu Taimiyah, dan Al-‘Izz bin Abdissalam? Mereka membawa panji jihad
fi sabilillah, kuat di hadapan musuh-musuh Alloh. Sementara sekarang
ini, para ulama justru meninggalkan medan
tempur, mereka mundur dari memegang tampuk kepemimpinan kafilah jihad
ini, mereka merasa berat untuk mengorbankan nyawa karena Alloh. Belum
cukup seperti itu, ditambah lagi mereka masih meneriaki mujahidin dan
mengalamatkan berbagai tuduhan negatif kepada mereka, engkau tidak
dengar suara mereka selain seruan untuk melawan mujahidin…semua itu
dilakukan dengan alasan sebagai alat politik dan mencapai kesopanan.
Aku sendiri tidak tahu, kapan mereka akan meninggalkan “fikih kekalahan sebelum perang”, dan pemahaman takut dan pengecut itu.
Tentang Pemenggalan warga Amerika, Nicholas Berg:
Tidakkah kalian dengar, bagaimana mereka mengingkari pemenggalan orang Amerika bernama Nicholas Bergh, itu?
Mereka
paling depan untuk mengingkari aksi ini karena sebelumnya mereka sudah
mundur dari memerangi orang-orang kafir, dan karena mereka belum pernah
menghirup angin ‘izzah (harga diri dan kemuliaan), belum pernah
merasa tinggi dengan kandungan-kandungan iman, yang mana seorang mukmin
harus merasa tinggi di hadapan kejahiliyahan dan para pengikutnya, “Dan
milik Alloh, rosul-Nya, dan orang-orang berimanlah harga diri (‘izzah)
itu, akan tetapi orang-orang munafik tidak mengeta-hui.” [18]
Orang-orang
seperti mereka sangat sulit membayangkan dirinya –karena posisinya
sebagai budak yang hina—bisa menyembelih sang majikan, yaitu orang
Amerika.
Benar!
Mereka terlanjur menetek susu kehinaan dari puting ibu-ibu mereka
sampai kehinaan itu mengalir dalam diri mereka. Maka sangat sulit sekali
mereka bisa berubah dan berganti. Fakta pahit ini memang tidak mereka
nyatakan terus terang, tapi mereka membungkusnya dengan selendang
kefakihan dalam urusan agama, mereka menampilkan kehinaan ini dengan
menghiasinya menggunakan pakaian hikmah (sikap bijaksana). Mereka
mengeluarkan pernyataan dan tidak jujur, dengan mengatakan bahwa aksi
eksekusi ini memperburuk citra Islam dalam pandangan orang-orang barat
yang memiliki “perasaan sensitif”. Kata mereka, sebelum adanya aksi ini
dunia sangat reaksioner dengan kejahatan yang terjadi di penjara Abu
Ghorib dan Guantanamo, tapi gara-gara ada aksi pemenggalan ini timbul dampak negatif terhadap reaksi dan respon positif negara-negara dunia tadi. Bahkan,
fanatisme kebangsaan si anjing bangsa Rum, Bush, tadinya sudah mereda
hingga titik paling rendah; tapi gara-gara ada aksi pemenggalan ini,
emosi kebangsaannya kembali memuncak.
Seolah-seolah,
orang-orang yang katanya memiliki kebebasan di dunia itu sudah
menghunus pedangnya, menugaskan pasukannya dengan serius, dan sudah
benar-benar melongokkan kepalanya untuk membebaskan Irak dan
menyelamat-kan orang-orang bebas serta wanita-wanita yang kehilangan
anaknya dari penjara kebengisan dan kedzaliman.
Yang
sangat patut disayangkan adalah, media informasi salibis kafir itu
berhasil –dengan didukung persetujuan orang-orang yang sekulit dengan
kita— memberikan pengaruh dalam pembentukan pribadi orang Islam. Melalui
tekanan yang menakutkan, dan jaringan-jaringan informasi dunia arab dan
internasional, mereka berhasil mencuci otak kaum muslimin, mempengaruhi
pemikiran mereka, membalik fithroh mereka, dan menjadikan tekad mereka
menjadi banci.
Subhanalloh! Musuh dari kaum salib datang penuh dengki dengan membawa program yang sangat mengkhawatirkan,
yaitu ingin menguasai umat Islam dan memberikan kekuasaan bagi kaum
yahudi, memerangi syariat, meram-pas kehormatan, memperkosa harga diri,
melancarkan kehinaan dan kerendahan kepada umat manusia, sementara
umatku hanya melihat dari kejauhan, tidak mampu berbuat apapun selain
menampar pipi dan menangis, umatku tidak mampu mematahkan rantai
kehinaan yang diikatkan kepadanya sejak kurun waktu yang lama.
Telah
lahir generasi yang terasuki penyakit kehinaan, dan dihinakan dengan
pakaian aib. Maka neraca penilaian yang digunakan oleh generasi ini
berubah sangat drastis, generasi ini kehilangan neraca penilaian yang
didasarkan kelurusan dan hidayah dari langit, sebagaimana diberitakan
oleh Ash-Shôdiqul Mashdûq (Rosululloh SAW):
(تُعْرَضُ
الْفِتَنُ عَلىَ الْقُلُوْبِ عِرْضَ الْحَصِيْرِ عُوْداً عُوْداً، فَأَيُّ
قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيْهِ نُكْتَةً بَيْضَاءَ، وَأَيُّ قَلْبٍ
أَشْرَبهَاَ نُكِتَتْ فِيْهِ نُكْتَةً سَوْدَاءَ، حَتَّى يَصِْيرَ
الْقَلْبُ عَلَى قَلْبَيْنِ: أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَاةِ لاَ يَضُرُّهُ
فِتْنَةٌ مَادَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ، وَاْلآخَرِ أَسْوَدَ
مِرْباَزاً كَاْلكَوْزِ مُجْخِياً، لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوْفاً وَلاَ
يُنْكِرُ مُنْكَراً، إِلاَّ مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ)
“Berbagai
fitnah dilancarkan kepada hati seperti dianyamnya tikar satu bilah demi
satu bilah, maka hati mana saja yang mengingkari fitnah itu, akan
tertitik di sana
satu titik putih. Dan hati mana saja yang tenggelam olehnya, maka akan
dititikkan satu titik hitam. Sehingga hanya ada dua hati saja: Hati yang
putih seperti batu yang halus, ia tidak akan terpengaruh fitnah selama
masih ada langit dan bumi; dan hati yang hitam dan tertutup seperti
mangkuk yang terbalik, tidak mengerti mana yang makruf, dan tidak
mengingkari perkara yang munkar, selain yang sesuai dengan keinginan
hawa nafsunya.”
Inilah
Abu Bakar Ash-Shiddiq, sosok penyayang dan belas kasih –ayah dan ibuku
menjadi penebusnya—, beliau menggambarkan sebuah jalan yang terang dan
sunnah yang jelas buat kita, ketika beliau dikirimi surat perihal
permohonan pembebasan tawanan
yang oleh kaumnya hendak ditebus dengan harta sekian dan sekian, beliau
menjawab, “Bunuh tawanan itu, sungguh membunuh satu orang musyrik lebih
aku sukai daripada harta sekian dan sekian…”
Sebagian
utusan berusaha untuk menyelamatkan si bule, Bergh, ini, mereka
membayar kepada kami harta berapapun yang kami minta, di saat kami
sangat membutuhkan harta guna mendorong roda jihad, tapi kami lebih
memilih membalaskan dendam saudara-saudara dan umat kami.
Kami telah berjanji kepada Alloh untuk menghidupkan sunnah dan melazimi jalan orang-orang yang mendapat petunjuk.
Bukankah nabi kita, yang penyayang dan belas kasih, bersabda:
(لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِالذَّبْحِ)
“Aku telah datang kepada kalian dengan sembelih.” [19]
Dengan
itulah, hati para penentang dan orang-orang keras kepala dari pemuka
Quraisy menjadi takut, mereka menjadi segan dan takut kepada beliau,
mereka meminta keridhoan dan belas kasihan dari beliau, padahal
sebelumnya menghina dan memperolok beliau?
Kami
katakan: Seandainya umat ini menghunus pedangnya, berdiri kokoh di atas
prinsipnya, menyiapkan pasukannya, dan bergerak ke Gedung Putih untuk
membalaskan dendam, lalu terjadi lagi aksi pemenggalan, sehingga
suasanapun berubah dan pasukan musuh mampu diporak porandakan, tentu
keadaan umat ini akan lain dengan yang sekarang mereka alami. Akan
tetapi sayang, di manakah umatku menanggapi kejadian yang telah menimpa
dan sedang menimpa kaum muslimin di Irak, Palestina, Afghanistan, Indonesia,
Cechnya, dan lain seba-gainya? Apakah umatku tidak pandai berbuat
sesuatu selain menangis dan merintih, atau sekedar melakukan
demonstasi-demonstasi damai, dan hanya bisa mengecam serta mengancam
saja?
Apakah yang sudah diperbuat para demonstran untuk Afghanistan?
Bahkan, apakah yang sudah mereka perbuat untuk Mulla ‘Umar yang rela
mengorbankan seluruh negaranya demi menyelamatkan satu orang muslim,
yang kini terasing di pegunungan?
Apakah
yang sudah dilakukan umatku untuk wanita-wanita Sara-jevo, Indonesia,
Kashmir, Palestina, dan Irak, yang kehormatan mereka ternodai di hadapan
penglihatan dan pendengar umat secara keseluruhan?
Demi Alloh, kalau saja dalam hati kita masih tersisa ghîroh
(kecemburuan) atau yang mendekati, terhadap kejadian yang menimpa
saudara-saudara kita yang tadinya bebas, tentu kita tidak akan bisa
nyenyak tidur. Tentu kita tidak akan bisa bersenang-senang dengan istri
di atas ranjang kita sampai wanita-wanita yang kehilangan anaknya itu
dibebaskan.
Celaka
engkau, wahai umatku… Kehormatanmu berada di tangan para penyembah
salib, mereka memper-mainkannya, tapi tidak ada yang menyambut
panggilan.
Semua tawanan fihak yang kalah sudah dikembalikan
Tidak tersisa lagi selain tawanan kita
Aku tidak melihat cambuk kehinaan berlumur darah
Kecuali pasti kulihat di sana ada cuilan daging tawanan dari kita
Tidaklah kita mati seperti rusa
Sampai-sampai kematian malu menghampiri kita
Maka
dalam rangka membang-kitkan semangat, menyejukkan pandangan ahli tauhid
di belahan bumi timur dan barat, kami bertekad untuk tidak menebus bule
ini walapun mereka membayarnya dengan emas seberat dirinya. Kami telah
berjanji kepada Alloh untuk tidak menebus tawanan dengan harta, meskipun
kami berpendapat itu boleh dan sah dilakukan. Namun, semua ini kami
lakukan agar musuh-musuh Alloh mengerti bahwa dalam hati kami tidak ada
kemurahan hati dan kasihan kepada mereka. Hanya ada dua pilihan saja,
bebaskan tawanan kami, atau kami sembelih tawanan dari kalian.
Ulama Irak dan Kaum Rofidhoh:
Yang
membuat diriku tak hentinya keheranan adalah sikap yang diambil
orang-orang yang “kalah mental”, yang bernyali rendah dan pengecut, yang
memadamkan semangat keagamaan kami dan rela dengan kehinaan, terutama
adalah Hârits Adh-Dhôrî, ketua umum Majelis Ulama Muslimin Irak,
yang menyatakan terang-terangan dalam salah satu majelis khususnya,
bahwa ia tidak mampu mengangkat kepala lagi disebabkan pemenggalan warga Amerika dan relawan Kor Sel.
Maka
aku katakan kepadanya: Dulu aku mengira kamu akan menggali kubur dan
tidur di dalamnya sampai kematian menjemputmu, karena aku malu melihat
ketidak mampuanmu menolong saudari-saudarimu yang diperkosa di penjara
Abu Ghraib, padahal penjara itu hanya berjarak beberapa ratus meter dari
rumahmu.
Atau,
kami mengira engkau akan bersumpah kepada kami untuk tidak mengenakan
penutup kepala, tidak akan mencicipi makanan, dan tidak memejamkan mata
sebelum berhasil menyelamatkan akhwat-akhwatmu atau engkau mati
karenanya.
Tetapi, menyedihkan. Tidak ada satupun dari persangkaan kami ini yang engkau penuhi.
“Jihad” mu yang paling maksi-mal, justeru mengulurkan tali kasih sayang kepada orang-orang Rôfidhoh (Syi‘ah).
Tidakkah
engkau dengar peristiwa memalukan yang akan menghinakanmu hingga hari
kiamat tiba, ketika engkau berkumpul dalam pertemuan jahat bersama Jawad
Al-Khôlishi, lalu engkau berkata kepadanya, “Aku telah mendengar
tentang kesabaran dan keteguhan Anda, maka aku berjanji kepada diriku
sendiri jika aku bertemu denganmu aku akan mencium kepalamu, dan
sekarang tiba saatnya kupenuhi janjiku,”
Setelah
itu engkau berdiri dengan bergegas dan mencium kepala orang yang dalam
dirinya penuh kedengkian terhadap Islam. Kepala orang yang lisannya tak
henti mencela kehormatan Nabi mu, Muhammad Shollallohu Alaihi wa Sallam.
Demi robb-mu, katakan: dengan wajah apa engkau hendak menghadap nabimu kelak di hari perhimpunan?
Sungguh,
memang kamu benar-benar “dhôriy” (buas) terhadap orang-orang Islam
ketika engkau menuduh para tokoh jihad sebagai orang-orang yang sengaja
ditanam musuh. Tetapi kamu sendiri malah berdamai dengan kaum Rofidhoh,
kamu menyumbangkan masjid-masjid kami kepada mereka dengan alasan bahwa
itu hanya batu yang bisa diganti dengan bangunan lain.
Hanya
kepada Alloh sajalah kami mengadukanmu, di hadapan-Nya sajalah kami
akan menuntut dan bertanya kepadamu, dan cukuplah Alloh sebagai
pelindung kami dan Dia sebaik-baik pelindung.
Usaha Kristenisasi Irak:
Kamu
merasa sangat takjub dengan kesabaran dan kekokohan musuh agama ini
dalam perang yang mereka lancarkan kepada kaum muslimin, serta
pengorbanan nyawa dan waktu mereka dalam rangka membela kebatilan
mereka.
“Dan
pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata):"Pergilah kamu dan
tetaplah (menyembah) ilah-ilahmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal
yang dikehendaki.” [20]
Padahal mereka menyeberangi lautan padang
pasir dan tanah gersang dengan skuadron dan pasukan mereka yang
berjumlah sangat banyak, dalam rangka menyebarkan keyakinan batil
mereka, mereka rela menumpahkan darah serta mengorbankan nyawa demi
membela kebatilan mereka.
Benar! Koran hairan Daily Theleghrap di
Inggris edisi terakhir mempublikasikan berita yang menyatakan Irak
telah menjadi tempat yang nyaman bagi kelompok-kelompok missionaris
kristen. Koran itu menyebutkan bahwa anggota organisasi-organisasi
missionaris di Amerika Serikat sudah mulai melakukan operasi-operasi kristeni-sasi
dengan mengusung sandi: “Penyelamatan manusia di Irak” ; di mana salah
seorang pimpinan organisasi tersebut mengatakan, penjajahan Amerika
terhadap Irak telah menciptakan kesempatan bersejarah untuk memberi
petunjuk kepada jiwa-jiwa yang kebingungan dari rakyat Irak, baik yang
beragama Islam maupun orang-orang kristen ortodoks timur.
Ketua
Lembaga Kristenisasi Internasional, Jhon Baraday, sekaligus penanggung
jawab misi kristenisasi untuk wilayah Timur Tengah mengatakan bahwa
anggota gereja-gereja baptis yang jumlahnya mencapai 16 juta orang,
diminta oleh fihak gereja sebelum agresi ke Irak dimulai, agar terus
berdoa supaya Irak bisa ditaklukkan.
Jhon
Hanna, salah seorang missionaris, mengatakan setelah melakukan
kunjungan ke Irak, “Sungguh ini adalah tanggung jawab besar bagi para
penginjil Amerika, sebab di sini pintu-pintu terbuka, tekhnik-tekhnik
untuk mengkristenkan sangat mudah didapat, sokongan militer juga ada,
untuk menyelamatkan orang-orang Irak dari ajaran-ajaran yang memusuhi
ajaran kristen dan orang-orang kristen.”
Orang munafik meragukan janji Alloh dan Rosul-Nya:
Wahai mujahidin…
Para
penghadang di atas jalan menuju Alloh itu akan mengatakan kepada
kalian; apakah kalian menyangka apa yang kalian inginkan akan tercapai?
Apakah kalian menyangka khilafah Islamiyah, atau daulah Islamiyah
sekalipun, akan bisa tegak? Sungguh itu tidak mungkin terjadi, itu
adalah perkara yang lebih mendekati khayalan daripada kenyataan.
Jika mereka mengatakan seperti itu, ingatlah firman Alloh Ta‘ala:
“Ketika
orang-orang munafik dan di hatinya ada penyakit mengatakan: “Mereka itu
adalah orang-orang yang tertipu oleh agamanya,” Dan barangsiapa
bertawakkal kepada Alloh, maka sesungguhnya Alloh Mahaperkasa lagi
Mahabijaksana.” [21]
Katakan kepada mereka; sesungguhnya Alloh akan menakluk-kan Roma untuk kaum muslimin, sebagaimana dijanjikan Rosululloh Shollallohu Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits shohih, sebagaimana dulu Konstantinopel berhasil ditaklukkan.
Katakan
kepada mereka; kami berangan kepada Alloh lebih dari itu, kami berharap
dari Alloh untuk menaklukkan Gedung Putih, Istana Kremlin, dan London. Bersama kami ada janji Alloh: “Alloh
menjanjikan kepada orang-orang beriman di antara kalian dan beramal
sholeh, untuk menguasakan mereka di muka bumi sebagaimana Dia telah
kuasakan orang-orang sebelum mereka…” [22]
Mengenai
kapan itu terjadi? Itu bukan tugas kami, Alloh tidak pernah membebani
kami untuk itu. Yang Alloh bebankan kepada kami adalah beramal untuk
agama Islam, membela syariat Islam, dan mencu-rahkan segala kemampuan
untuk itu. Hasilnya hanya kita serahkan kepada Alloh ‘Azza Wa Jalla.
Hendaknya engkau menebar benih, bukan memetik panen
Alloh adalah sebaik-baik penolong bagi orang yang berusaha
Ketika Imam Ahmad Rohima-hullôh mengalami
ujian sewaktu terjadi fitnah menyebarnya keyakinan Al-Quran adalah
makhluk, dan keyakinan ini sempat mendominasi kaum muslimin karena
adanya dukungan kekuatan penguasa, seorang pemuka ajaran bid‘ah bernama Ahmad bin Abî Du’ad datang kepada Imam Ahmad, dengan puas ia berkata, “Tidakkah kamu melihat, bagaimana kebatilan bisa menang di atas kebenaran, hai Ahmad?”
Imam Ahmad Rahimahulloh menjawab,
“Sesungguhnya kebatilan tidak menang di atas kebenaran; dominasi
kebatilan atas kebenaran adalah berpindahnya hati manusia dari perkara
yang benar menuju perkara yang batil, sementara hati kami tetap memegang
yang benar.”
Katakan kepada mereka sebagaimana perkataan Nabi Ya‘qub AS, “Sungguh, aku benar-benar mencium bau Yûsuf, barangkali kalian menganggapku lemah akal.” [23]
Walaupun
bala dan peristiwa-peristiwa mengerikan ini datang bertubi-tubi, tapi
kami mencium angin jalan keluar, kemenangan, dan kekuasaan, “barangkali kalian menganggapku lemah akal.”
Banyak manusia akan mengatakan kepada kalian, wahai para mujahidin, “Sungguh, kalian berada dalam kesesatan lama kalian.”
Dulu,
orang-orang munafik mengatakan kepada para shahabat setelah perang
Uhud, “Kembali saja kalian kepada agama bapak-bapak kalian,”
Kata-kata
seperti ini diucapkan orang-orang munafik di setiap zaman kepada
orang-orang beriman, ketika para mujahidin fi sabilillah ditimpa
musibah, mengalami pembunuhan, luka-luka, dipenjara, atau menga-lami
penyiksaan.
Kalau mereka mengatakan seperti itu, katakan kepada mereka:
“Sesungguhnya Alloh membela orang-orang yang beriman,” [24]
“Dan Alloh pasti akan menolong orang yang menolong-Nya.” [25]
Orang-orang munafik akan mengatakan kepada kalian, sama seperti ketika mereka mengatakan kepada Ashhâbu `r-Rojî‘
(para shahabat yang diutus Nabi mengajari Al-Quran, yang dipimpin
Shahabat ‘Âshim bin Tsâbit, pent.)ketika mereka dikhianati orang-orang
musyrik, “Kasihan sekali orang-orang yang tertimpa fitnah yang binasa
itu, mereka tidak bisa tinggal di tengah keluarganya, tidak juga bisa
menunaikan risalah temannya.”
Kata-kata seperti ini akan dilontarkan kepada kalian di hari-hari ini, setiap kali ada ikhwah
yang terbunuh, mereka akan mengatakan: “Kasihan, mereka tidak duduk dan
selamat, tapi juga tidak bisa menghilangkan kemungkaran dan
bencana-bencana,”
Kalau kalian mendengar kata-kata seperti ini, sampaikan kepada mereka kata-kata Khodijah Ash-Shiddîqoh (istri Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam), “Demi Alloh bergembiralah, Alloh tidak akan pernah menghinakanmu.”
Maka
kami katakan kepada setiap orang yang berjihad di jalan Alloh; Demi
Alloh, Alloh tidak akan pernah menghinakan kalian, sungguh kalian adalah
orang-orang yang menyambung tali silaturohmi, melindungi syariat, dan
berjihad di jalan Alloh melawan manusia yang kafir kepada Alloh dari
orang-orang yahudi, salibis, dan murtaddin.
Ahli sejarah bernama Muhammad Al-Bassâm, di dalam bukunya Ad-Duror wa `l-Mafâkhir fî Akhbâri `l- ‘Arob Al-Awâkhir,
berkata mengenai para ulama Nejd ketika memerangi raja Mesir, “Demi
Alloh! Raja Mesir mengalahkan mereka bukan karena mereka lemah atau
pengecut, tetapi karena pengkhianatan orang-orang arab sendiri, atau
karena adanya peran dari penduduk negeri-negeri.”
Diri kita bukan milik kita lagi:
Wahai para mujahidin…
Kalian
telah jual nyawa kalian kepada Alloh ‘Azza Wa Jalla, kini di hadapan
kalian hanya ada satu pilihan saja, yaitu engkau serahkan barang
dagangannya kepada Sang Pembeli,
“Sesungguhnya
Alloh telah membeli dari orang-orang beriman, jiwa dan harta mereka,
dengan memberikan surga kepada mereka; mereka berperang di jalan Alloh
lalu membunuh atau dibunuh. Sebagai sebuah janji yang benar di dalam
kitab Taurat, Injil, dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih benar
janjinya daripada Alloh? Maka berikanlah kabar gembira dengan jual beli
yang kalian adakan, dan itulah keberuntungan yang besar.” [26]
Jika
pembeli telah menerima barang dagangan, maka terserah mau Dia apakan
dagangan tersebut. Terserah mau Dia letakkan di mana; kalau Dia
berkehendak, akan diletakkannya di istana, kalau Dia berkendak akan
diletakkannya di penjara, kalau Dia berkehendak akan diberinya pakaian
paling mewah, kalau Dia berkehendak akan menjadikannya telanjang kecuali
sebatas penutup aurat, kalau Dia berkehendak akan menjadikannya kaya,
kalau Dia berkehendak akan dijadikannya fakir miskin, kalau Dia
berkehendak akan dijadikanya tergantung di tiang gantungan, atau
menjadikan musuh menguasainya, lantas membunuh atau mencin-cangnya.
Sayyid Qutb Rohimahullôh mengomentari kejadian yang menimpa Ashhâbu `l-Ukhdûd,
beliau mengatakan, “Contoh seperti ini pasti terjadi, di mana orang
beriman tidak ada yang selamat dan orang kafir tidak ada yang diazab.
Hal ini agar tertancap dalam benak orang-orang beriman, para pelaku
dakwah kepada Alloh, bahwa mereka bisa saja dituntut mengakhiri jalan
yang ia tempuh menuju Alloh dengan kejadian seperti ini. Supaya mereka
mengerti bahwa mereka sama sekali tidak memiliki kekuasaan sedikitpun
mengatur urusan, urusan mereka dan urusan akidah semata-mata
dikem-balikan kepada Alloh. Kewajiban mereka hanyalah melaksanakan
ke-wajiban yang dibebankan kepada mereka, dan setelah itu…jalan.
Kewajiban mereka adalah menge-depankan Alloh dan akidah di atas
kehidupan, merasa tinggi dengan imannya di atas berbagai fitnah, dan
bersikap jujur kepada Alloh dalam beramal dan berniat. Setelah semua
ini, Alloh akan memperlakukan diri mereka dan musuh mereka terserah yang
Dia kehendaki terhadap dakwah dan agama-Nya, bisa saja mereka akan
mengakhirinya dengan salah satu kejadian yang sudah terjadi dalam
sejarah iman, atau mengakhirinya dengan cara lain sesuai yang
dikehendaki dan dilihat oleh Alloh. Mereka adalah orang-orang yang
bekerja di sisi Alloh, apa kemudian pantas orang yang menjual seekor
kambing marah, atau hatinya tidak terima, ketika sang pembeli
menyembelihnya?”
Bukankah
engkau mendengar kejadian yang menimpa singa Alloh dan singa Rosul-Nya,
Hamzah? Perutnya dibelah, hatinya dikeluar-kan, dan tubuhnya dicincang.
Bukankah engkau mendengar apa yang dialami manusia terbaik, Muhammad Shollallohu Alaihi wa Sallam, ketika perang Uhud?
Renungkanlah keadaan para nabi dan rosul yang merupakan makhluk-makhluk pilihan; nabi Ibrohim ‘Alaihi `s-Salâm dilemparkan ke dalam api, Nabi Zakariya digergaji tubuhnya, Nabi Yahya (yang berjuluk as-sayyid al-hashûr,
yang artinya seorang teladan dan menahan hawa nafsu) disembelih, Nabi
Ayyub berkutat dalam bala ujian selama bertahun-tahun, Nabi Yunus
dikurung di dalam perut ikan hiu, Nabi Yusuf dijual dengan harga murah
dan harus mendekam di penjara selama beberapa tahun.
Semua itu mereka jalani dengan rasa ridho terhadap robb dan majikan mereka yang Mahabenar.
Menerima takdir dengan ikhlas:
Dulu,
ada sebagian salaf yang mengatakan, “Seandainya tubuhku dipotong-potong
dengan gunting, itu lebih aku sukai daripada mengomentari sesuatu yang
sudah ditetapkan Alloh: Seandainya saja itu tidak terjadi.”
Oleh
karena itu, wahai ikhwan-ikhwanku, jadilah orang-orang yang tidak
mencampuri urusan Alloh –sang majikan— dalam mengurus dirimu, dan tidak
menentang pilihan yang Alloh pilihkan untukmu. Contoh-contoh yang kami
ceritakan di atas tidak pernah campur tangan dalam pengurusan Alloh
terhadap kekuasaannya, dengan mengatakan: “Seandainya begini, tentu
jadinya begini,” tidak juga mengatakan, “Seandainya,” “Jikalau,” dan
“Kalau saja,”
Pilihan
yang Alloh berikan bagi orang beriman adalah pilihan teragung dan
terbaik, walaupun tampaknya sulit dan berat, atau di dalamnya harta
musnah, jabatan dan kedudukan lenyap, kehilangan keluarga dan harta,
bahkan seluruh urusan dunianya sirna.
Ingatlah
kisah perang Badar, lalu renungkanlah baik-baik. Kala itu sebagian
shahabat menginginkan peristiwa Badar sebagai saat yang tepat untuk
menaklukkan kafilah dagang kaum Quraisy. Akan tetapi Alloh Ta‘ala
memilihkan pasukan perang untuk mereka hadapi, padahal perbedaan antara
keduanya sangat-sangat jauh. Apakah yang ada dalam kafilah dagang?
Makanan yang disantab, setelah itu pergi ke tempat buang air, pakaian
yang kemudian lusuh dan dibuang, serta dunia yang akan segera lenyap.
Ada
pun menghadapi pasukan perang; di sanalah Alloh pisahkan antara yang
haq dan yang batil, kesyirikan kalah dan bertekuk lutut, ajaran tauhid
menang dan tinggi, para pemuka kaum Quraisy yang selalu menghalangi
Islam terbunuh, dan cukuplah ketika datang kabar gembira bahwa Alloh
melihat hati pasukan Badar kemudian berfirman: “Lakukanlah sesuka
kalian, Aku telah ampuni kalian.”
Ujian datang, banyak yang berguguran:
Wahai para mujahidin…
Ketika bala’ datang, banyak orang-orang yang mundur, maka janganlah kalian sedih dengan ini.
Muslim meriwayatkan dalam Shohih-nya, dari Anas Rodhiyallohu ‘Anhu;
bahwasanya orang-orang Quraisy membuat perjanjian dengan Rosululloh
SAW, lalu mereka memberi syarat; siapa saja di antara kalian yang datang
kepada kami maka tidak kami kembalikan kepada kalian, dan siapa saja
dari kami yang datang kepada kalian, maka kalian harus mengembalikannya
kepada kami.
Mendengar syarat ini, para shahabat mengatakan, “Apakah kita akan menulis syarat ini?” Rosululloh menjawab, “Ya!
Sungguh jika ada dari kita yang pergi ke tempat mereka maka Alloh akan
menjauhkannya, dan siapa di antara mereka yang datang kepada kita maka
Alloh akan memberikan jalan keluar kepadanya.”
Maka janganlah engkau bersedih melihat orang yang dijauhkan oleh Alloh.
Alangkah indah kata-kata Ibnul Qoyyim Rahimahulloh,
“Tempuhlah jalan kebenaran dan jangan merasa asing dengan sedikitnya
orang yang menempuhnya. Setiap kali engkau merasa asing dalam
kesendirianmu, lihatlah teman-temanmu yang sudah berlalu dan berusahalah
untuk menyusul mereka, jangan menoleh kepada selain mereka, karena itu
tidak akan memberikan manfaat sedikitpun kepadamu. Jika orang
meneriakimu ketika engkau berada di atas jalan yang engkau tempuh,
jangan pernah menoleh kepada mereka, sebab setiap kali engkau menoleh,
mereka akan menahan dan menghalangimu.”
Taufik bukan didapat dari banyaknya hafalan ilmu:
Maka
waspadalah, jangan sampai hati kalian mendengarkan syubhat-syubhat yang
dilontarkan para pemutus jalan dan orang-orang yang kalah sebelum
tempur, yang ingin menghalangi kalian dari jalan jihad. Inti perkaranya
semata-mata taufik dari Alloh Ta‘ala, sesungguhnya Alloh akan
memampangkan lembaran-lembaran buku kepada mereka, lalu Alloh hinakan
mereka meskipun banyak sekali buku dan matan yang mereka hafal dalam
hati dan pikiran mereka.
Permasalahannya bukan terletak pada banyaknya ilmu, tetapi pada ketakwaan kepada Alloh yang akan mewariskan pembedaan nilai berdasarkan iman,
“Hai
orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Alloh, Alloh akan
jadikan pembeda antara yang hak dan yang batil bagi kalian…” [27]
Semoga
Alloh merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ketika beliau berkata,
“Umat ini sudah banyak sekali mengumpulkan berbagai cabang disiplin
ilmu, maka siapa yang hatinya diberi cahaya oleh Alloh, Alloh akan
memberinya hidayah dalam ilmu yang sampai kepadanya. Tetapi siapa yang
dibutakan hatinya oleh Alloh, banyaknya buku tidak menambah apa-apa
selain kebingungan dan kesesatan.”
Ya Alloh, mantabkanlah kekuasaan ahli tauhid di muka bumi…
Ya Alloh, mantabkanlah kekuasaan mujahidin di muka bumi…
Ya Alloh, siapkanlah pasukan mereka, kirimlah ekspidisi perang mereka, dan ikhlaskanlah niat-niat mereka…
Ya Alloh, lindungilah mereka dengan perlindungan-Mu,
Ya Alloh, lindungilah mereka dengan perlindungan-Mu,
Ya Alloh, lindungilah mereka dengan perlindungan-Mu…
Ya Alloh, jagalah mereka dengan mata-Mu yang tidak pernah tidur, sementara para makhluk terlelap tidur…
Ya Alloh, mudahkanlah segala kebaikan untuk mereka…
Ya
Alloh, siapa saja yang ingin memberikan kebaikan kepada mereka, maka
tunjukkanlah kepadanya segala kebaikan…dan siapa saja yang menginginkan
kejahatan kepada mereka, maka ambillah dia dengan siksaan Dzat Yang
Mahaperkasa lagi Mahakuasa.
Ya
Alloh, lindungi mereka dan kehormatan mereka… Ya Alloh, lindungi mereka
dan kehormatan mereka… Ya Alloh, lindungi mereka dan kehormatan mereka…
Ya Alloh, mereka adalah orang-orang miskin, maka muliakanlah mereka dengan keperkasaan-Mu, wahai robb semesta alam…
Ya Alloh, mereka adalah kaum fakir, maka kayakanlah mereka dengan anugerah dari-Mu ya robb semesta alam…
Ya Alloh, hidupkan kembali umat Muhammad… Ya Alloh, hidupkan kembali umat Muhammad… Ya Alloh, hidupkan kembali umat Muhammad…
Ya Alloh, tolonglah umat Muhammad, ya robbal Alamin…
Wahai
robb kami…wahai robb kami…wahai robb kami…tolonglah kami atas kaum yang
dzalim…wahai robb kami, tolonglah kami atas orang-orang kafir.
Ya
Alloh, ambillah darah kami supaya Engkau ridho, Ya Alloh, ambillah
darah kami supaya Engkau ridho, Ya Alloh, ambillah darah kami supaya
Engkau ridho.
Ya
Alloh, tempatkan jasad kami di perut binatang buas dan perut-perut
burung nasar… Ya Alloh, tempatkan jasad kami di perut binatang buas dan
perut-perut burung nasar… Ya Alloh, tempatkan jasad kami di perut
binatang buas dan perut-perut burung nasar…
Wa `l-hamdulillâhi robbi `l ‘Âlamîn.
[1] QS. Ali ‘Imron: 102
[2] QS. An-Nisa’: 1
[3] QS. Al-Ahzab: 70-71
[4] QS. Ali Imron: 152.
[5] QS. Al-Mujadilah: 21.
[6] QS. Al-Maidah: 56.
[7] QS. Ar-Rum: 47.
[8] QS. An-Nur: 55.
[9] QS. Az-Zumar: 20.
[10] QS. Al-Baqoroh: 249
[11] QS. At-Taubah: 52.
[12] HR. Bukhori
[13]
Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Rosululloh
Shollallohu Alaihi wa Sallam menyatakan, jarak antara satu langit ke
langit berikutnya adalah perjalanan 500 tahun, pent. (Lihat Kitabut
Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. terakhir)
[14] QS. Ali Imron: 139.
[15] QS. Al-Ahzab: 9.
[17] QS. Al-Ahzab: 13.
[18] QS. Al-Munafiqun: 8.
[19] HR. Ahmad.
[20] QS. Shôd: 6.
[21] QS. Al-Anfal: 49.
[22] QS. An-Nur: 55.
[23] QS. Yusuf: 94.
[24] QS. Al-Hajj: 38
[25] QS. Al-Hajj: 40
[26] QS. At-Taubah: 111.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar