Blogroll

GN

Minggu, 26 Februari 2012

Kumpulan Ajaran Konfusius (Wedhatama Tiongkok)

 

Meluruskan Nama-nama - Zheng Ming ( 正 名 )

Ketika ditanya oleh Zi Lu, seorang muridnya, tentang apa yang seharusnya pertama-tama dilakukan kalau ia memerintah sebuah negara maka Konfusius menjawab: " Terlebih dahulu akan kuluruskan nama-nama".

Zi Lu tidak mengerti atas jawaban tersebut dan Konfusius menjelaskan: " Bilamana nama-nama tidak benar, maka pembicaraan tidak akan sesuai dengan hal yang sesungguhnya. Bila pembicaraan tidak sesuai dengan hal yang sesungguhnya, maka segala urusan tak dapat dilakukan baik-baik. Bila pekerjaan tidak dapat dilakukan baik-baik, kesusilaan dan musik tak dapat berkembang, hukumpun tak dapat dilakukan dengan tepat. Bila hukum tak dapat dilakukan dengan tepat, maka rakyat akan merasa tiada tempat untuk menaruhkan kaki dan tangannya. bagi seorang Junzi, nama itu harus sesuai dengan yang diucapkan dan kata-kata itu harus sesuai dengan perbuatannya. Itulah sebabnya seorang Junzi tidak gampang-gampang mengucapkan kata-kata". ( Lun Yu XIII, 3 )

Cinta Kasih - Ren ( 仁 )


Menurut Konfusius manusia yang bermartabat adalah manusia yang memiliki 'Ren' atau Cinta Kasih. Konsep 'Ren' merupakan pusat kualitas moral manusia intisari dari cinta terhadap sesama, perikemanusiaan, hati nurani, keadilan, dan kasih sayang. Aksara China untuk Ren ( 仁 ) dibentuk dari kata Ren ( 人 = 肕 manusia ) dan kata Er ( 二 = dua ) yang artinya hubungan antara dua manusia atau hubungan manusia dengan manusia berdasarkan kemanusiaan yang sama atau perikemanusiaan atau cinta kasih. Dalam Konfusianisme "Ren' adalah idealisme moral tertinggi yang melandasi etika moral lain yang ingin dicapai yaitu Kebenaran ( Yi ), Kesusilaan ( Li ), Bijaksana ( Zi ), dan Dapat Dipercaya ( Xin ).

Ketika Fan Chi ( murid Konfusius ) bertanya tentang 'Ren' , Konfusius menjawab," Cintailah manusia". ( Lun Yu XII, 22 ).

"Seorang yang memiliki Ren ingin dapat tegak, maka berusaha agar orang lainpun tegak: ia ingin maju, maka berusaha agar orang lainpun maju.". ( Lun Yu VI, 30:3 ). Juga yang diri sendiri tidak inginkan hendaklah jangan diberikan kepada orang lain. ( Lun Yu XII, 2 ).

Kepada Zi Zhang, Konfusius berkata, "Ren adalah kesanggupan untuk mencapai lima hal didunia, yaitu hormat, lapang hati, dapat dipercaya, cekatan, murah hati". ( Lun Yu XVII, 6 )

Kebenaran - Yi ( 義 )

Yi umumnya diartikan sebagai menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, kewajiban dan kepantasan. Menurut Fung Yu lan Yi berarti keadaan yang seharusnya terjadi yang merupakan amar tanpa syarat. Setiap orang mempunyai hal-hal tertentu yang seharusnya ia lakukan demi hal-hal itu sendiri yang ditinjau dari sisi moral merupakan hal yang harus dikerjakan karena benar. Jika orang mengerjakan hal itu karena pertimbangan lain terletak diluar dibidang moral, walaupun ia mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan , namun perbuatannya tersebut tidak lagi merupakan perbuatan yang adil/lurus. Hal ini dapat kita simak dari perkataan Konfusius sendiri, " Seorang Junzi hanya mengerti akan kebenaran, sebaliknya seorang rendah budi hanya mengerti akan keuntungan". ( Lun Yu IV, 16 ).

Kesusilaan - Li ( 禮 )

Pada masa sebelum Konfusius, Li berarti kurban dalam upacara persembahan kurban untuk memenuhi kehendak langit. Upacara atau ritual semacam ini merupakan bagian dari peradaban China yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Konfusius kemudian memperluas makna kata Li dengan pengertian baru yaitu kepatutan atau kepantasan perilaku terhadap orang lain. Pengertian ini memiliki arti sangat luas yang meliputi semua nilai-nilai etika, tata-krama, budi pekerti, kesopanan, norma sosial dan moral. Jika harus diartikan dalam satu kata, maka kata yang tepat adalah Kesusilaan.

Bagi Konfusius segala sesuatu yang berhubungan antara manusia dan manusia yang lain harus diatur menurut Li.

Yan Yuan ( seorang murid Konfusius ) bertanya tentang cinta kasih. Konfusius menjawab," Mengendalikan diri dan pulang kepada kesusilaan, itulah cinta kasih. Bila suatu hari dapat mengendalikan diri pulang kepada kesusilaan, dunia akan kembali kepada cinta kasih. Cinta kasih itu bergantung kepada usaha diri sendiri. Dapatkah bergantung kepada orang lain?" ( Lun Yu XII, 1:1 )

Yan Yuan meminta penjelasan tentang pelaksanaannya. Konfusius menjawab," Yang tidak susila jangan dilihat, yang tidak susila jangan didengar, yang tidak susila jangan dibicarakan, dan yang tidak susila jangan dilakukan." ( Lun Yu XII, 1:2 )

Konfusius berkata,"Menghormat tanpa mengenal kesusilaan akan merupakan pekerjaan yang merepotkan. Berhati-hati tanpa kesusilaan akan menimbulkan perasaan serba takut. Keberanian tanpa kesusilaan akan menimbulkan kekacauan. Kejujuran tanpa kesusilaan akan menimbulkan perilaku kasar." ( Lun Yu VIII, 2 )

"Tata cara itu harus selaras dengan kemurnian hati, dan kemurnian hati terwujud dalam tata cara. Ingatlah kulit harimau dan macan tutul jika dihilangkan bulu-bulunya tidak akan ada bedanya dengan kulit anjing dan kambing." ( Lun Yu XII, 8 )

"Diatur dengan undang-undang, dilengkapi dengan hukuman, menjadikan orang hanya berusaha menghindar dan kehilangan harga diri. Diatur dengan kebajikan dan dilengkapi dengan kesusilaan, menjadikan orang tumbuh rasa harga diri dan berusaha hidup benar." ( Lun Yu II, 3: 1-2 )

"Bagi orang yang tidak memiliki cinta kasih ( Ren ), apa arti kesusilaan ( Li )? bagi yang tidak memiliki cinta kasih ( Ren ) apa arti musik ( Yue )?" ( Lun Yu III, 3 )

Lin Fang bertanya tentang inti kesusilaan. Konfusius menjawab,"Didalam upacara daripada mewah menyolok lebih baik sederhana. Didalam upacara duka, daripada meributkan perlengkapan upacara lebih baik ada rasa sedih yang tulus". ( Lun Yu III, 4; 1-3 )

Bijaksana - Zhi ( 智 )

Zhi secara harafiah artinya kearifan atau kebijaksanaan, juga berarti kecerdasan atau kepandaian. Zhi merupakan gabungan dari kata anak panah ( 失 shi ) dan mulut ( 口 kou ), artinya mengetahui atau menyadari ( 知 Zhi ). Dan dibawahnya ada kata Ri ( 日 ) yang artinya hari, matahari, atau setiap hari. Maka anda dikatakan bijaksana kalau setiap hari memiliki kesadaran atau selalu sadar. Bagaimana konsep kebijaksanaan menurut Konfusius, mari kita ikuti ajaran beliau dibawah ini.

Konfusius berkata, "Bila melihat seorang yang bijaksana, berusahalah menyamainya dan bila melihat seorang yang tidak bijaksana, periksalah dirimu sendiri," ( Lun Yu IV, 17 )

"Bila melakukan kesalahan, jangan takut untuk memperbaikinya." ( Lun Yu I, 8 : 4 )

"Bila kamu tahu berlakulah sebagai orang yang tahu, bila kamu tidak tahu katakanlah bahwa kamu tidak tahu. Itulah yang disebut mengetahui." ( Lun Yu II, 17 )

"Orang yang suka cinta kasih ( Ren ) tetapi tidak suka belajar akan menanggung cacat bodoh. Orang yang suka kebijaksanaan ( Zhi ) tetapi tidak suka belajar maka akan menanggung cacat kalut jalan pikiran,..... ( Lun Yu XVII, 8 )

Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa Konfusius mengajarkan agar dalam mencapai kebijaksanaan untuk tidak ragu-ragu untuk mengikuti perilaku bijak orang lain dengan semangat selalu mawas diri dan berani mengoreksi kesalahan diri sendiri. Konfusius juga mendasarkan bahwa kebijaksanaan harus dicapai dengan dilandasi semangat kejujuran dan keterbukaan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah semangat dan kesukaan akan belajar yang tinggi merupakan sarana untuk mencapai kebijaksanaan.

Pada waktu Konfusius berada diistana, kandang kudanya terbakar. Setelah pulang ia bertanya,"Adakah orang yang terluka?" Ia tidak menanyakan tentang kudanya. ( Lun Yu X, 17 )

Pasal tersebut menunjukkan sikap bijak yang sangat tinggi yang dimiliki Konfusius, karena pada saat harta kekayaannya terancam yang nomor satu diingatnya adalah nasib orang-orangnya. Mungkin namanya tidak akan dicatat sejarah seandainya pertanyaannya salah pada saat itu.

Layak Dipercaya - Xin ( 信 )

Xin secara harafiah artinya dapat atau layak dipercaya dan dapat juga berarti surat. Kata Xin berasal dari gabungan dua kata, yaitu kata Ren ( 人 ) yang berarti manusia dan Yan ( 言 ) yang berarti kata-kata atau ucapan. Manusia bersandar kepada kata-katanya mengandung arti jika manusia konsisten dengan kata-katanya maka ia layak dipercaya. makna yang lain adalah hanya mahluk manusia yang dapat mengungkapkan kata-katanya secara tertulis, maka Xin artinya juga surat.

Berikut adalah ajaran Konfusius tentang konsep Xin, sebagai berikut:

" Seorang yang tidak layak dipercaya entah apa yang dapat dilakukan? Itu seumpama kereta besar yang tidak mempunyai sepasang gandaran atau seumpama kereta kecil yang tidak mempunyai sebuah gandaran, entah bagaimana menjalankannya?" ( Lun Yu II, 22 )

Ketika ditanya soal pemerintahan Konfusius menjawab," Harus cukup makan, cukup persenjataan, dan ada kepercayaan rakyat." Ketika ditanya jika terpaksa ada yang tidak dapat dipenuhi dari ketiga hal tersebut yang mana dapat dilewatkan Konfusius menjawab, " Persenjataan dapat dilewatkan." Ketika ditanya mana yang dapat dilewatkan jika masih ada yang tidak dapat dipenuhi dari dua yang tersisa Konfusius menjawab, " Lewatkan makanan. Sejak jaman dahulu selalu ada kematian; tetapi tanpa kepercayaan rakyat, negara tidak dapat berdiri." ( Lun Yu XII, 7 )

Dari ungkapan-ungkapan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Konfusius mengajarkan bahwa seseorang harus memiliki sifat layak dipercaya karena dengan ia memiliki sifat layak dipercaya ia akan mendapat kepercayaan dari orang lain dan masyarakat. Sifat layak dipercaya adalah landasan utama dari semua hubungan manusia didunia. Demikian juga pemerintah yang baik adalah yang mendapat kepercayaan dari rakyatnya. Untuk bisa mendapat kepercayaan dari rakyatnya tentu pemerintahan tersebut harus memiliki pejabat-pejabat yang layak dipercaya.

Setia & Tepa Sarira - Zhong Shu ( 忠 恕 )

Setia atau Zhong ( 忠 ) terdiri dari gabungan dua kata yaitu Hati ( Xin 心 ) dibawah kata Tengah ( Zhong 中 ). Artinya orang yang berperilaku setia adalah orang yang memiliki hati yang terletak ditengah atau hati yang terletak ditempat yang semestinya.

Tepa Sarira atau Tenggang Rasa ( Shu 恕 ) terdiri dari kata Seperti ( Ru 如 ) dan Hati ( Xin 心 ). Artinya Tepa Sarira atau Tenggang Rasa adalah perbuatan yang muncul dari hati. Maka seorang manusia yang sudah kehilangan hatinya tentu sudah kehilangan kemampuannya untuk bertenggang-rasa.

Konfusius berkata,"Shen ( Nama panggilan Zeng Zi, salah seorang muridnya ), ketahuilah Tao yang kumiliki itu satu tetapi menembus semuanya". Zeng Zi menjawab, " Ya, Guru." Setelah Konfusius pergi, murid-murid yang lain bertanya apa maksud kata-kata sang Guru tadi. Zeng Zi menjawab,"Tao atau jalan suci Guru itu tidak lain adalah Setia dan Tepa Sarira ( 忠 恕 Zhong Shu )". ( Lun Yu IV, 15 )

Takdir - Tian Ming - ( 天 命 )

Huruf Tian ( 天 ) berasal dari huruf Da ( 大 ) yang artinya besar, ditambah satu garis diatasnya menjadi Tian ( 天 ), yang artinya yang paling besar adalah langit. Maka Tian ( 天 ) secara harafiah artinya Tuhan, Surga, atau Langit sebab dialah yang paling besar. Kata Ming ( 命 ) berasal dari gabungan dua kata, yaitu kata Kou ( 口 ) yang berarti mulut dan Ling ( 令 ) yang berarti perintah atau komando. Gabungan dua kata tersebut menghasilkan Ming ( 命 ) artinya: hidup, nyawa, nasib, takdir, perintah, titah. Sementara jika huruf Tian dan Ming digabungkan artinya menjadi: kehendak Tuhan, takdir, mandat dari Tuhan.

Berikut adalah ajaran Konfusius tentang konsep Tian Ming, sebagai berikut:

Guru berkata,"Pada waktu berusia 15 tahun, sudah teguh semangat belajarku. Pada usia 30 tahun tegaklah pendirian. Pada usia 40 tahun tida lagi keraguan dalam pikiran. Pada usia 50 tahun telah mengerti Takdir Tuhan. Pada usia 60 tahun pendengaranku telah menjadi alat yang patuh untuk menerima kebenaran. Dan di usia 70 tahun aku sudah dapat mengikuti hatiku dengan tidak melanggar garis kebenaran." ( Lun Yu II, 4 )

Guru berkata,"Seorang Junzi memuliakan tiga hal, memuliakan Takdir Tuhan, memuliakan orang-orang besar, dan memuliakan sabda luhur para nabi. Seorang rendah budi tidak mengenal dan tidak memuliakan Takdir Tuhan, meremehkan orang-orang besar dan mempermainkan sabda para nabi." ( Lun Yu XVI, 8 )

Guru berkata,"Yang tidak mengenal Takdir, ia tidak dapat menjadi seorang Junzi. Yang tidak mengenal Li ( kesusilaan ) ia tidak dapat teguh dalam pendirian. Yang tidak mengenal perkataan, ia tidak dapat mengenal manusia," ( Lun Yu XX, 3 )

Dengan sedih Sima Niu berkata,"Orang lain mempunyai saudara, namun aku sebatang kara." Zi Xia berkata," Apa yang pernah aku dengar ( dari Konfusius ) demikian 'mati hidup adalah Takdir, kaya mulia ditentukan Tuhan. Seorang Junzi selalu bersikap sungguh-sungguh, maka tiada khilaf. Kepada orang lain bersikap hormat dan selalu bersikap susila. Maka di empat penjuru lautan semuanya saudara. Mengapa seorang Junzi merana karena tidak mempunyai saudara?" ( Lun Yu XII, 5 )

Dari ungkapan-ungkapan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Konfusius mengajarkan bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Manusia hanya dapat berusaha untuk terus belajar untuk meraih kebijaksanaan ( Zhi ), memahami dan mengamalkan kesusilaan ( Li ), cinta kasih ( Ren ), kebenaran ( Yi ), dan sikap dapat dipercaya ( Xin ). Ideal yang ingin dicapai adalah menjadi seorang Junzi. Perkara hidup mati, kaya dan mulia tidaklah perlu dirisaukan karena hal itu adalah Tian Ming atau Takdir Tuhan.

Manusia Budiman - Jun Zi ( 君 子 )

Jun Zi jika harus diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya adalah manusia budiman, susilawan, seorang manusia dengan seluruh kebijakan dan keagungannya. Padanan kata dalam bahasa Inggrisnya adalah gentleman. Menjadi Jun Zi adalah idealisme moral manusia tertinggi yang harus dicapai dalam Konfusianisme.

" Seorang Jun Zi memegang kebenaran sebagai pokok pendiriannya, kesusilaan sebagai pedoman perbuatannya, mengalah dalam pergaulan dan menyempurnakan diri dengan sikap dapat dipercaya. Demikianlah Jun Zi". ( Lun Yu XV, 18 )

"Seorang Jun Zi menuntut diri sendiri, seorang rendah budi menuntut orang lain". ( Lun Yu XV, 21 )

"Seorang Jun Zi bukan alat". ( Lun Yu II, 12 )

"Seorang Jun Zi mengutamakan kepentingan umum, bukan kelompok; seorang rendah budi mendahulukan kelompok; bukan kepentingan umum". ( Lun Yu II, 14 )

"Seorang Jun Zi mau berlomba tetapi tidak mau berebut, mau berkumpul tetapi tidak mau berkomplot". ( Lun Yu XV, 22 )

"Seorang Jun Zi tidak memuji seseorang karena kata-katanya, dan tidak menyiakan kata-kata karena orangnya". ( Lun Yu XV, 23 )

Tiga Hubungan Tata Krama - San Gang ( 三 綱 )

Dalam masyarakat yang beradab pasti diperlukan suatu tata hubungan yang mengatur norma-norma kepantasan atau kepatutan hubungan antar anggota masyarakat tersebut. Nah, San Gang adalah tiga hubungan tata krama antara:

1. Seorang raja dengan para menterinya, atau antara seorang atasan dengan

para bawahannya.

2. Seorang ayah dengan anaknya.

3. Seorang suami dengan istrinya.

Lima Norma Kesopanan - Wu Lun ( 五 倫 )

Lima norma kesopanan dalam masyarakat terdiri dari San Gang ditambah dua norma lainnya, yaitu hubungan antar saudara dan hubungan antar teman.

1. Seorang raja dengan para menterinya, atau antara seorang atasan dengan

para bawahannya.

2. Seorang ayah dengan anaknya.

3. Seorang suami dengan istrinya.

4. Seorang kakak dengan adik.

5. Seorang teman dengan teman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar