Blogroll

GN

Selasa, 28 Februari 2012

PERILAKU AJARAN HASTA BRATA (WAHYU MAKKUTHA RAMA)



A.LAKON “WAHYU MAKUTARAMA”

1.Pengantar
Lakon“Wahyu Makutarama” adalah bukti kepiawaian para pujangga Nusantara dalammengadopsi cerita wayang, yang aslinya dari India. Epos India terdiri dari “Ramayana” dan“Mahabharata”.
Lakon“Wahyu Makutarama” adalah hasil karya leluhur Nusantara kita, merupakan “titiktemu” atau “jembatan penghubung” antara kedua kisah tadi,
Dalamlakon ini ada tokoh Gunawan Wibisana dan Anoman, tokoh dalam kisah Ramayana.

2.Ringkasan lakon “Wahyu Makutarama”.

Syahdan,para dewa mengabarkan kepada para insan marcapada, bahwa telah ada Mahkota yangdiberi nama Sri Batara Rama. Barangsiapa memiliki mahkota itu, akan menjadisakti, dan kelak akan menurunkan raja-raja yang memerintah di marcapada. Karenaberkhasiat menurunkan raja-raja, kemudian sering disebut sebagai “WahyuMakutarama”.

PrabuDuryudana dari Astina mengutus Adipati Karna untuk memperoleh mahkota sekaliguswahyu tadi. Adipati Karna, dengan diiringi para senapati Kurawa, pergi menemuiBegawan Kesawasidi di pertapaan Kutharunggu. Karna meminta wahyu itu, yangdiyakininya berada di tangan Kesawasidi. Kesawasidi mengatakan dia tidak punyaMakutarama. Adipati Karna marah, dan melepaskan panahnya, yang disambut olehAnoman, pendamping Kesawasidi. Panah itu ditangkap Anoman, kemudiandipersembahkan kepada Kesawasidi. Bukannya dipuji, Anoman malah ditegurKesawasidi, karena, dapat dipandang sebagai meragukan kepiawaian kanuragangurunya.

SetelahKarna pergi, datanglah Begawan Wibisana, adik Rahwana, yang sudah berusialanjut dan ingin segera meninggalkan dunia, kembali ke alam asal. Tidakdilayani oleh Kesawasidi, hingga terjadi pertempuran. Kesawasidi “tiwikrama”,dan sadarlah WIbisana bahwa Kesawasidi titisan Rama, bekas junjungannya dulu.Kesawasidi memberi petunjuk cara kembali ke alam asal. Wibisana pamit, dandalam perjalanan ke alam asal bertemu sukma Kumbakarna, kakaknya dulu, yangsedang gelisah. Wibisana menasehati Kumbakarna supaya menyatu dengan Bima,ksatria Pandawa.

Sementaraitu, Arjuna juga berupaya mendapatkan Makutarama. Dia pergi diam-diam dari istananya, kemudianmenyamar sebagai pendeta. Selagi bersemedi, Arjuna mendapat “wangsit” untukmenemui Begawan Kesawasidi.
Setelah Arjuna datang menghadap,tahulah Kesawasidi bahwa sudah tiba saatnya memberikan wahyu itu kepada orangyang tepat. Diwedarkannya rahasia bahwa Makutarama bukanlah berujud benda,tetapi berupa ajaran luhur yang patut dijadikan pedoman dan dilakoni olehmanusia, terutama yang mengemban tugas sebagai pemimpin. Ajaran luhur inidinamakan “Asta Brata”, yang intinya meneladan sifat-sifat alam dalam melakonikehidupan. Asta Brata ini dulunya diajarkan Rama kepada Wibisana, sepeninggalRahwana, sebagai bekal bagi Wibisana menjadi raja Alengka menggantikan Rahwana.

Sepeninggal Arjuna, Bima mencarinya.Dalam pencarian itu, ketemu sukma Kumbakarna, yang kemudian merasuk ke pahakiri Bima. Istri Arjuna, Sumbadra, juga mencari Arjuna. Sumbadra dibantu BetaraNarada, dan berubah rupa menjadi ksatria, yang kemudian pergi ke Kutharunnggumenantang perang Arjuna.
Dalam perang tanding itu, Kesawasididatang. dan “badar” lah semuanya. Kesawasidi kembali ke wujud Kresna, sangksatria penantang kembali menjadi Sumbadra.

Arjuna mewarisi wahyu Makutaramaberupa ajaran “Asta Brata”, yang kelak diwariskan kepada puteranya, Abimanyu. Anak Abimanyu, Parikesit, belakanganmewarisi tahta kerajaan Hastina.

B. “ASTA BRATA”.

1. Inti ajaran Asta Brata.

Ajaran Astabrata pada awalnya merupakanajaran yang diberikan olah Rama kepada Wibisana. Ajaran tersebut terdapat dalamSerat Rama Jarwa Macapat, tertuang pada pupuh 27 Pankur, jumlah bait 35 buah.Pada dua pupuh sebelumnya diuraikan kekalahan Rahwana dan kesedihan Wibisana.Disebutkan, perkelahian antara Rahwana melawan Rama sangat dahsyat. Seluruh kesaktianRahwana ditumpahkan dalam perkelahian itu, namun tidak dapat menendingikesaktian Rama. Ia gugur olah panah Gunawijaya yang dilepaskan Rama. Melihatkekalahan kakaknya, Wibisana segera bersujud di kaki jasad kakaknya danmenangis penuh kesedihan.

Rama menghibur Wibisana dengan memujikeutamaan Rahwana yang dengan gagah berani sebagai seorang raja yang gugur dimedan perang bersama balatentaranya. Oleh Rama, Raden Wibisana diangkat menjadiRaja Alengka menggantikan Rahwana. Rama berpesan agar menjadi raja yangbijaksana mengikuti delapan sifat dewa yaitu Indra, Yama, Surya, Bayu, Kuwera,Brama, Candra, dan Baruna. Itulah yang disebut dengan Asthabrata.

Dalam lakon Wahyu Makutarama, Prabu Ramamenitis kepada Kresna untuk melestarikan Asta Brata dan menurunkannya kepadaArjuna. Setelah itu, Asta Brata diturunkan oleh Arjuna kepada Abimanyu danditeruskan kepada Parikesit yang kemudian menjadi Raja.

Asta Brata adalah simbol alamsemesta. Arti harfiahnya “delapan simbol alam”, tetapi sejatinya menyiratkankeharmonisan sistem alam semesta. Pada hakikatnya kedelapan sifat tersebutmerupakan manifestasi keselarasan yang terdapat pada tata alam semesta yangdiciptakan Tuhan, dan manusia harus menyelaraskan diri
dengan tata alam semesta kalau inginselamat dan terhindar malapetaka. Bila manusia, sebagai ciptaan Tuhan, bisaselaras dengan alam semesta, maka selaraslah kehidupannya.

Delapan simbol alam itu adalah: bumi,geni, banyu, angin, srengenge, bulan, lintang, dan awan. Mengambil kedelapansimbol alam sebagai contoh, itu lah inti ajaran Asta Brata, sebagai pedomantingkah laku seorang raja, yang secara singkat dapat dirangkum sebagai:

“Dapat memberikan kesejukan danketentraman kepada warganya; membasmi kejahatan dengan tegas tanpa pandangbulu; bersifat bijaksana, sabar, ramah dan lembut; melihat, mengerti danmenghayati seluruh warganya; memberikan kesejahteraan dan bantuan bagi warganyayang memerlukan; mampu menampung segala sesuatu yang datang kepadanya, baikyang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; gigih dalam mengalahkan musuhdan dapat memberikan pelita bagi warganya.”

2. Beberapa versi rumusan Asta Brata

a. Menurut Yasadipura I ((1729-1803 M)dari keraton Surakarta:

-Asta Brata adalah delapan prinsipkepemimpinan sosial yang meniru filosofi/sifat alam, yaitu:

1. Mahambeg Mring Kismo (meniru sifatbumi)
Seperti halnya bumi, seorang pemimpinberusaha untuk setiap saat menjadi sumber kebutuhan hidup bagi siapa pun. Diamengerti apa yang dibutuhkan oleh rakyatnya dan memberikan kepada siapa sajatanpa pilih kasih. Meski selalu memberikan segalanya kepada rakyatnya, diatidak menunjukkan sifat sombong/angkuh.

2. Mahambeg Mring Warih (meniru sifat air)
Seperti sifat air, mengalir dari tinggi ketempat yang lebih rendah dan sejuk/dingin. Seorang pemimpin harus bisa menyatudengan rakyat sehingga bisa mengetahui kebutuhan riil rakyatnya. Rakyat akan
merasa sejuk, nyaman, aman, dan tentrambersama pemimpinnya. Kehadirannya selalu diharapkan oleh rakyatnya. Pemimpindan rakyat adalah mitra kerja dalam membangun persada tercinta ini. Tanparakyat, tidak ada yang jadi pemimpin, tanpa rakyat yang mencintainya, tidak adapemimpin yang mampu melakukan tugas yang diembannya sendirian.

3. Mahambeg Mring Samirono (meniru sifatangin)
Seperti halnya sifat angin, dia ada dimana saja/tak mengenal tempat dan adil kepada siapa pun. Seorang pemimpin harusberada di semua strata/lapisan masyarakatnya dan bersikap adil, tak pernahdiskriminatif (membeda-bedakan).

4. Mahambeg Mring Condro (meniru sifatbulan)
Seperti sifat bulan, yang terang dansejuk. Seorang pemimpin mampu menawan hati rakyatnya dengan sikap keseharianyang tegas/jelas dan keputusannya yang tidak menimbulkan potensi konflik.Kehadiran pemimpin bagi rakyat menyejukkan, karena aura sang pemimpin memancarkankebahagiaan dan harapan.

5. Mahambeg Mring Suryo (meniru sifatmatahari)
Seperti sifat matahari yang memberi sinarkehidupan yang dibutuhkan oleh seluruh jagat. Energi positif seorang pemimpindapat memberi petunjuk/jalan/arah dan solusi atas masalah yang dihadapirakyatnya.

6. Mahambeg Mring Samodra (meniru sifatlaut/samudra)
Seperti sifat lautan, luas tak bertepi,setiap hari menampung apa saja (air dan sampah) dari segala penjuru, danmembersihkan segala kotoran yang dibuang ke pinggir pantai. Bagi yang memandanglaut, yang terlihat hanya kebeningan air dan timbulkan ketenangan. Seorangpemimpin hendaknya mempunyai keluasan hati dan pandangan, dapat menampung semuaaspirasi dari siapa saja, dengan penuh kesabaran, kasih sayang, dan pengertianterhadap rakyatnya.

7. Mahambeg Mring Wukir (meniru sifatgunung)
Seperti sifat gunung, yang teguh dankokoh, seorang pemimpin harus memiliki keteguhan-kekuatan fisik dan psikisserta tidak mudah menyerah untuk membela kebenaran maupun membela rakyatnya.Tetapi juga penuh hikmah tatkala harus memberikan sanksi. Dampak yangditimbulkan dengan cetusan kemarahan seorang pemimpin diharapkan membawakebaikan seperti halnya efek letusan gunung berapi yang dapat menyuburkantanah.

8. Mahambeg Mring Dahono (meniru sifatapi)
Seperti sifat api, energi positif seorangpemimpin diharapkan mampu menghangatkan hati dan membakar semangat rakyatnyamengarah kepada kebaikan, memerangi kejahatan, dan memberikan perlindungankepada rakyatnya.

b. Menurut Serat Aji Pamasa (Pedhalangan)karya Raden Ngabehi Rangga Warsita. Pemimpin dituntut ngerti, ngrasa, dannglakoni (Tri-Nga) 8 (delapan) watak alam. Hasta berarti delapan, brata berartilaku atau watak.

1. Watak Surya atau srengenge (matahari);sareh sabareng karsa, rereh ririh ing pangarah.
2. Watak Candra atau rembulan (Bulan);noraga met prana, sareh sumeh ing netya, alusing budi jatmika, prabawa srepingbawana.
3. Watak Sudama atau lintang (Bintang);lana susila santosa, pengkuh lan kengguh andriya. Nora lerenging ngubaya, datanlemeren ing karsa. Pitayan tan samudana, setya tuhu ing wacana, asring umasungwasita. Sabda pandhita ratu tan kena wola wali.
4. Watak Maruta atau angin (Udara yangbergerak); teliti setiti ngati-ati, dhemen amariksa tumindake punggawa kanthi caraalus.
5. Watak Mendhung atau mendhung (Awanhujan); bener sajroning paring ganjaran, jejeg lan adil paring paukuman.
6. Watak Dahana atau geni atau latu (Api);dhemen reresik regeding bawana, kang arungkut kababadan, kang apatengpinadhangan.
7. Watak Tirta atau banyu atau samodra(Air); tansah paring pangapura, adil paramarta. Basa angenaki krama tumrapingkawula.
8. Watak pratala atau bumi atau lemah(Tanah); tansah adedana lan karem paring bebungah marang kawula.

c. Menurut lakon Wahyu Makutharama, diajarkanoleh Begawan Kesawasidi (Prabu Kresna) kepada Raden Arjuna, sebagai berikut:

1. “kapisan bambege surya, tegese sarehing karsa, derenging pangolah nora daya-daya kasembadan kang sinedya. Prabawanemaweh uriping sagung dumadi, samubarang kang kena soroting Hyang Surya noradaya-daya garing. Lakune ngarah-arah, patrape ngirih-irih, pamrihe lamun sarwasareh nora rekasa denira misesa, ananging uga dadya sarana karaharjaning sagungdumadi.

2. Kapindho hambege candra yaiku rembulan,tegese tansah amadhangi madyaning pepeteng, sunare hangengsemake, lakune bisaamet prana sumehing netya alusing budi anawuraken raras rum sumarambah marangsaisining bawana.

3. Katelu hambeging kartika, tegese tansahdadya pepasrening ngantariksa madyaning ratri. Lakune dadya panengeraningmangsa kala, patrape santosa pengkuh nora kengguhan, puguh ing karsa pitayatanpa samudana, wekasan dadya pandam pandom keblating sagung dumadi.

4. Kaping pate hameging hima, tegesehanindakake dana wesi asat; adil tumuruning riris, kang akarya suburngrembakaning tanem tuwuh. Wesi asat tegese lamun wus kurda midana ing gunturwasesa, gebyaring lidhah sayekti minangka pratandha; bilih lamun ala antukpidana, yen becik antuk nugraha.

5. Kalima ambeging maruta, werdine tansahsumarambah nyrambahi sagung gumelar; lakune titi kang paniti priksa patrapehangrawuhi sakabehing kahanan, ala becik kabeh winengku ing maruta.

6. Kaping nem hambeging dahana, lirepakartine bisa ambrastha sagung dur angkara, nora mawas sanak kadang pawongmitra, anane muhung anjejegaken trusing kukuming nagara.
7. Kasapta hambeging samodra, tegesejembar momot myang kamot, ala becik kabeh kamot ing samodra; parandene noranana kang anabet. Sa-isene maneka warna, sayekti dadya pikukuh hamimbuhisantosa.

8. Kaping wolu hambeging bantala, werdineila legawa ing driya; mulus agewang hambege para wadul. Danane hanggeganjarmyang kawula kang labuh myang hanggulawenthah.


C. NILAI DAN TELADAN

a. Relevansi Asta Brata dengan ajaranserupa di dunia Internasional.
Ada banyak rumusan Asta Brata. Bahkan,pernah dijadikan pelajaran wajib di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas).

Apakah ajaran ini bersifat Universal,dalam arti tidak hanya dihayati bangsa Indonesia saja?
Ternyata, memang benar. Ajaran Asta Bratabersifat Universal, dikenal pula di belahan dunia yang lain, walau pun berbedasebutan dan rumusannya. Berupa apa sifat ajaran Universalnya?
Yaitu, bahwa manusia harus hidup selarasdengan alam.

Di Negeri China, Korea, dan Jepang dikenal“Fengshui” (harfiahnya Angin dan Air), yang berlandaskan teori lima proses:Logam, Kayu, Tanah, Air, dan Api.

Di anak benua India, dikenal pula Teori 5Unsur: Api, Tanah, Air, Udara (Angin) dan Ruang.
Mengapa hanya lima? Berarti ajaran AstaBrata lebih lengkap?
Ternyata, tidak sesederhana itu.
Perhatikan, adakah unsur “Ruang” dalamajaran Asta Brata?
Tanpa ruang, di manakah ke unsur-unsuralam itu berada?

Makna: Tidak semua yang terlihat berbedaitu benar-benar berbeda. Perluaslah wawasan kita untuk bisa melihat, bahwa adakesamaan di antara perbedaan.

b. Esensi Makna Asta Brata
Asta Brata bukan hanya berlaku bagi parapemimpin saja. Setiap manusia, seyogyanya mengamalkannya, dalam arti “hidupselaras dengan alam”, dan “menjalankan peran yang diembannya, sehingga memberimanfaat bagi sesama”.

Seorangpemimpin yang tidak mampu melaksanakan Asta Brata bagai raja tanpa mahkota.Sebaliknya, rakyat jelata yang dalam hidupnya mampu melaksanakan Asta Brata,berarti ia adalah rakyat jelata yang bermahkota, dialah manusia yang luhur budipekertinya.
 http://budayaleluhur.blogspot.com/2011/12/perilaku-ajaran-hasta-brata-wahyu.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar