Blogroll

GN

Sabtu, 25 Februari 2012

Yen Wani Ojo Wedi-wedi, Yen Wedi Ojo Wani-wani


 Dari ketidaktahuan, maka manusia belajar untuk mengetahui.
Setiap hal selalu datang dari ketiadaan.
Seperti sebuah teko yang harus diisi untuk dinikmati.
Sebuah teko yang telah terisi sebelumnya tidak akan mampu menerima lagi sebelum terlebih dahulu dia mengalami pengosongan.
Manusia hidup dalam dunia materi, maka dia cenderung memfokuskan pada isi.
Karenanya, maka manusia sering tertipu oleh ilusi kebendaan/ posessi.
itu sebabnya dalam dunia materi ini jauh lebih sulit belajar untuk tidak tahu daripada belajar untuk tahu. 

 ..................................................................... 


Hidup manusia tidak sama dengan daun yang ketika gugur terhempas oleh angin, dipermainkan dan lenyap tanpa bekas.
Hidup manusia adalah guratan gunung, tempaan besi, dia yang mampu dinikmati jauh setelah jiwa itu lepas dari fisik/ ketika manusia itu mati.
Akal kreatif itu menegaskan eksistensi.
Binatang tidak tahu kisah mengenai leluhurnya, namun manusia bisa, melalui catatan sejarah, melalui prasasti dan bangunan2 simbolik.
Pikiran dan tindakan membuat seorang manusia itu abadi.
Manusia tidak sama dengan daun yang ketika gugur terhempas dipermainkan angin lalu lenyap tanpa bekas.
Manusia memiliki akal, maka dia itu abadi.
Akal kreatif manusia meninggalkan jejak untuk dikenang, bahwa telah lahir seorang yang bernama “...” pada tahun “...”, berbuat “...” dan mewariskan “...”.
Dengan inilah maka hidup bukan untuk mati yang tanpa makna atau hidup untuk menuju kehidupan berikut dalam dongeng yang sering terdengar di pasar2.
Melainkan hidup adalah perjuangan untuk eksistensi abadi.
Marilah kita semua mengisi “...” dengan perbuatan bermakna, sebagai bukti terima kasih kita kepada Tuhan yang telah memberi kita hadiah eksistensi.

 ..................................................................... 


Hidup ini harus ber-Vivere Pericoloso, seperti Bung Karno. Vivere pericoloso, adalah sebuah ungkapan dalam bahasa Italia yang artinya kurang lebih adalah, "hidup secara berbahaya" dipopulerkan oleh Bung Karno pada tahun 1964 sebagai judul pidato kenegaraan pada peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-19.
Hidup ini harus berani mengambil resiko, jangan ambil jalan yang biasa, pilih jalan yang tidak pernah dilalui orang lain, maka segala akan berbeda kata Robert Frost.
Menjadi orang luar biasa butuh pengorbanan dan siap ambil resiko. Untuk menjadi orang biasa siapa bilang aman, menjadi orang biasa riskan diperbudak dan dimanfaatkan. Marsinah[*] adalah orang biasa, maka dia mati hina dan biasa, yang meributkan juga sekelompok orang biasa. Karena biasa, maka tidak kenal filsafat, dialektika, evolusi, dawkins, meme, thermodinamika, hukum konversi energi, Pergerakan Brownian dll. Karena biasa, maka rata2 hidup prihatin. Karena biasa, maka tidak mengerti statistika ekonomi, economic bubble, sub-prime mortgage, membaca candlestick chart, analisis teknik, pasar modal, dan sebagainya.
Karena terlalu biasa, maka tidak kebagian.
Seorang yang lapar menemui seorang bijak. Orang bijak tidak beri beras. Meniru pepatah bijak dari orang bijak lainnya, "orang bijak harus beri kail, bukan ikan!". Orang bijak tidak beri beras namun sebilah pisau, orang bijak katakan kepadanya "Pisau kecil ini, pisau yang dapat membuka jalan dan merubah takdir, asah terus pisaumu!" "Jangan mau ambil jalan biasa, ambil jalan luar biasa! ", kata si bijak sembari berjalan menuju arah angin dan berlalu.

[*]Nama dan kisah kematiannya dieksploitasi, dibajak, dijual sebagai jampi2 penglaris komoditas jamu politik ketika musim kampanye. Namun si mati dan keluarga tidak memperoleh apapun kecuali kematian dan kemiskinan. Adalah ironis jika bangsa ini lebih menyukai kisah hina dibandingkan kisah heroik (mewartakan yang hina2 yang justru laris ketika diangkat parpol sebagai alat mendulang suara). Tidak ada bangsa besar yang mengidolakan manusia yang mati dalam keadaan hina dan gagal. 

 .....................................................................

 Benar-salah, halal-haram (binary opposition) itu semua kan hanya sekedar kompromi politik berdasarkan status menang-kalah. Kalau anda pada puncak stratifikasi sosial, anda yang menentukan. Maka yang salah bisa jadi benar, haram bisa jadi halal.
Semua ada rumusnya, mengapa Hidrogen adalah elemen paling ringan, mengapa Uranium yang terberat, pelajari konversi energi, hukum thermodinamika, biologi mokuler, peluruhan atom, maka kita baru tahu realitas kehidupan.

Gambar papan penanggalan elektronik diatas (gambar layar hitam dengan dot matrix hijau) mempergunakan ketentuan binary. Akhirnya pertentangan itu menjadi bermakna lewat hasil yang disajikan, manusia bisa mengenal waktu.
Bagi sy pribadi, benar-salah bukan jadi acuan, tetapi tasfir kita yang lebih berperan dan untuk dikemanakan data2 tersebut dipergunakan, itu yang lebih penting! ~Yrgn Z'vi~

http://en.wikipedia.org/wiki/Binary_numeral_system
http://www.calculator.net/binary-calculator.html
http://www.kerryr.net/pioneers/ascii1.htm


 "Benar" bukan harus selalu jadi prioritas, "Salah" bukan pula berarti harus dijauhi.

 Leibniz found some sort of confirmation for his theories in the I Ching's depiction of the universe as a progression of contradicting dualities, a series of on-off, yes-no possibilities, such as dark-light and male-female, which formed the complex interaction of life and consciousness. He reasoned that, if life itself could be reduced to a series of straightforward propositions, so could thought, or logic.
 .....................................................................

 Saya wajib mengadopsi sistem irasional dan unrealistik. Saya tidak percaya kepada keadaan diri saya yang sekarang, saya harus belajar keras untuk bermimpi.
Saya harus melatih diri untuk tidak jujur dalam melihat segala sesuatu.
Jika saya jujur kepada kodrat manusia yang lemah, maka benarlah seorang Pascal berkata: “Setetes air mampu membunuh manusia yang tidak berharga dan fana ini.”
Namun saya tidak jujur dan wajib menipu diri saya sendiri dengan membangun kerajaan ideal diatas awan. Pascal menambah “walau 'dia' (manusia) mampu terbunuh hanya dengan setetes air, maka 'dia' lebih mulia dari substansi yang membunuhnya. Sebab pembunuhnya tidak tahu mengenai fitrah alam keberadaan dirinya, sedangkan manusia mengerti, karena 'dia' substansi berpikir yang sadar!”.
Kata Lord Bacon “scientia potentia est” ("knowledge is power"), bahwa kecerdasan dan kemampuan penalaran terhadap hukum2 fisik, maka manusia dapat menguasai alam.
Manusia yang tidak berpikir, dia harganya sama dengan seonggok daging sapi yang digantung di los daging. Seekor sapi disembelih, dipilah2, dipanggang lalu dihidangkan pada meja makan kita adalah karena dia tidak mampu berpikir. Dan kita sebagai manusia memikirkan tentang kegunaan sapi itu. “Sirloin steak” dan “garlic butter”, bahwa eksistensi mereka lebih tepat adalah untuk berada dalam lambung empuk kita .
Jangan mau orang lain berpikir untuk kita, tetapi jadilah manusia yang berpikir untuk diri kita sendiri!

 .....................................................................

 Maaf,
Seorang pengemis dengan tangan menengadah keatas memohon nasib dari pengendara mobil yang kaya dijalan, dia bilang "nasib, takdir dan rezeki ditangan Tuhan."
Seorang kaya tidak sengaja menabrak seorang pengemis hingga tewas, dia juga bilang "takdir, nasib, umur ditangan Tuhan."

lho!?

 .....................................................................

 Ganjalan itu ada ketika manusia merasakan batasan. Hidup pada fisik membatasi jiwa dalam sekat2 materi. Manusia butuh makan, maka ia masuk dalam ranah sosial, ekonomi. Semakin tinggi kualitas kehidupan, maka semakin kompleks permasalahan yang mendera, ia tidak dapat lagi menyerap langsung energi Matahari dan mengikat Nitrogen sebagaimana tumbuh2an. Manusia butuh makan, maka ia butuh uang dan uang hanya didapat lewat kerja. Jabatan, kelas sosial, itu masuk ranah politik, dan itu semua menentukan kapasitas manusia. Menjadi manusia yang terbatas atau manusia yang tidak terbatas adalah pilihan takdir. Namun hanya manusia yang tidak terbatas saja yang mampu merefleksikan fitrah secara total didalam dunia. Dan perintah bahwa manusia sebagai khalifah di bumi benar-benar dijalankan. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar