Blogroll

GN

Sabtu, 25 Februari 2012

Proses Evolusi Belum Selesai

  Tujuan eksistensi adalah menuju mati. Tujuan makan, minum adalah menuju mati. Proses apoptosis/ (mekanisme biologi kematian sel terprogram). Manusia jarang ada yang mencapai usia lebih dari 90 tahun, mustahil untuk berusia diatas 130 tahun. Sebab walaupun sel2 ber-regenerasi tiap hari, tiap detik, namun ada hukum apoptosis yang harus ditaati. Dimana tiap tarikan nafas yang bersinergi dengan oksigen menciptakan radikal bebas yang mengiring sel untuk mengetahui jam kematiannya sendiri. Bahwa seseorang sudah mencapai usia 60 tahun, maka mekanisme sel akan berjalan semakin tidak produktif.
Proses entropi menuju kematian panas. Oksigen bersinergi dengan besi, mengoksidasi dan membuatnya berkarat. Manusia menghirup oksigen, oksigen turut mengoksidasi sel dan membuatnya usianya semakin pendek. Ironis.. apa yang membuatnya hidup, itupula yang mempercepat kematiannya.
Lalu apa artinya hidup jika kita dipaksa untuk memenuhi ketentuan determinasi biologis yang adalah menuju mati?
Disini penekanan bukan pada seberapa panjang atau pendeknya hidup, namun pada kerja eksistensi/ “Force”. Manusia besar adalah manusia yang karya hidupnya mampu mempengaruhi orang banyak dan merubah wajah dunia.
Tuhan disini tidak melihat karya orang tersebut dari kacamata baik atau buruk, melainkan yang nyata.
Perbuatan baik, jika itu hanya sekedar berada dalam pikiran, maka itu buruk dalam eksistensi bumi yang menuntut kerja nyata / ‘force’.
Perbuatan jahat, jika itu sudah maujud lewat tindakan, maka itulah kerja nyata/ ‘force’/ kenyataan/ kebaikan.
Sebab setiap perbuatan adalah atas seijin dari Tuhan, maka kita tidak dapat berkata bahwa Tuhan mengizinkan kejahatan, melainkan kejahatan merupakan keadaan yang dimana wajib ada sebagai pembuka kedatangan dari kebaikan sempurna.
Manusia di padang pasir kerontang, sedang haus, baru ia dapat menikmati indahnya secangkir sirup. Namun segelas es tidak berguna saat manusia sedang setengah tenggelam di kolam renang!

 .....................................................................

Manusia lahir ke dunia ini membawa mimpi2. Mimpi itu direalisasikan lewat kehidupan seseorang.
Ada 2 macam mimpi;
1). manusia yang selalu bermimpi, mimpinya membawa kepada keagungan-kemuliaan-kesuksesan.
2). mereka yang tidak dapat bermimpi, karenanya seseorang tanpa mimpi itu tidak diberi petunjuk, tidak dapat bergerak kemana-mana sehingga hina-merana, menghabiskan kehidupannya di bumi secara sia2 dan percuma.
Karena Tuhan memiliki kedaulatan untuk memilihkan takdir kepada kita, maka Tuhan manunggal dengan manusia yang Ia pilih, Ia masuk kedalam mimpi setiap tidur kita.
Jadikanlah diri kita sebagai manusia yang menjadi alat manifestasi daripada kebesaran diri-Nya.
Mari bagikan mimpi2 walau lewat cambuk, karena cambuk ini adalah cambuk kasih sayang, cambuk yang memberi sebuah petunjuk.

.....................................................................

 Doa saya kepada Tuhan tiap malam adalah: Janganlah kelaparan Engkau hapus dari muka bumi dan berilah makanan ‘hanya’ pada orang yang pantas menerimanya. Untuk yang tidak pantas makan, maka engkau wajib segera musnahkan (sebagai pelajaran bagi orang2 yang beriman).
Sebab jika engkau memberikan makanan berlimpah kepada manusia tanpa mengenal (peduli terhadap latar belakang) perjuangannya. Maka ras manusia pastilah akan punah seperti Burung Dodo. Itulah kekejaman Tuhan kepada umat manusia (yang dimana memberikan manusia kelimpahan) tidak akan pernah dilupakan sebagai satu2nya Kekejian Akbar.
Mari kita mendengar kisah bagaimana Burung Dodo punah. Burung Dodo justru punah akibat pasokan makanan yang berlimpah selama berabad2 melemahkan mental 'vivere pericoloso' (struggle of the fittest) sang spesies:
http://id.wikipedia.org/wiki/Dodo


As with many animals that have evolved in isolation from significant predators, the dodo was entirely fearless of people, and this, in combination with its flightlessness, made it easy prey for humans #
# http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/3281323.stm


 Setelah kita tahu terhadap kebenaran Sunatullah ini, maka alangkah baiknya kita mensyukuri suatu kaum yang dimana Tuhan beri kelaparan sehingga musnah. Ucapkan alhamduilllah kepada setiap peristiwa kelaparan yang menimpa suatu kaum yang tidak berjalan dalam jalur evolusionistik.

 selama manusia masih makan dan minum, maka itulah realitas yang ada... kalau sudah tidak butuh makan dan minum, baru bisa berlepas dari tudingan tersebut.
 .....................................................................

 Seaktu keponakan sy Hanzl yang baru berusia 11 tahun menolak melanjutkan pembacaan atas Herodotus, maka tanganku dengan simbolik berniat menamparnya. Telunjukku mengarah kepada foto besar inspirasi diatas yang terpampang (sengaja aq print besar dan dibingkai) di ruang belajar keponakannku. Aku bilang kepadanya dengan ancaman “Lebensunwertes Leben! “, kemudian melanjutkan dengan bahasa Inggris "they are worster than animal!“, menceritakan horor kengerian dan kejijikan atas makna kata “Lebensunwertes Leben!“
Seorang anak adalah Kebanggaan Ras, oleh sebab dia yang melanjutkan perjuangan kolektif yang terwariskan dari leluhur ras dari bangsa2. Jatuh atau bangun suatu ras bergantung dari bagaimana kita sekarang mempersiapkan generasi penerus. Aku ibaratkan keponakkanku sebagai bocah di foto pojok kiri atas dengan pandangan menerawang memberi makna pada suatu kemantapan pada cita2 di masa depan, dan “Lebensunwertes Leben! “ di pojok kanan bawah. Aku rangkul, aku peluk dia, aku tanamkan kepercayaan bahwa ini adalah masalah hidup-mati daripada usaha berat kolektif berkelanjutan yang dikerjakan leluhur kita ratusan, ratusan ribu tahun lampau semenjak menciptakan peradaban dan mengisinya dengan kegemilangan yang memancing decak kagum dari etnis 2 lain. Aku tanamkan pengertian kepada dirinya bahwa aku tidak mau itu terputus, maka berjuanglah dengan sekuat tenagamu, darah dan nyawamu, mempertahankan kemuliaan ras, itu semua beban diatas pundakmu. Janganlah gagal, sebab kegagalan berarti kemusnahan eksistensi, kemusnahan ras, seperti yang disimbolkan pada gambar pojok kanan bawah. “Lebensunwertes Leben!“ ulangku ketus sekaligus membelai mantap kepalanya, mengisi dengan petunjuk melangkah hari depan. ~Yrgn Z'vi~
http://en.wikipedia.org/wiki/Life_unworthy_of_life

 .....................................................................

 Ganjalan itu ada ketika manusia merasakan batasan. Hidup pada fisik membatasi jiwa dalam sekat2 materi. Manusia butuh makan, maka ia masuk dalam ranah sosial, ekonomi. Semakin tinggi kualitas kehidupan, maka semakin kompleks permasalahan yang mendera, ia tidak dapat lagi menyerap langsung energi Matahari dan mengikat Nitrogen sebagaimana tumbuh2an. Manusia butuh makan, maka ia butuh uang dan uang hanya didapat lewat kerja. Jabatan, kelas sosial, itu masuk ranah politik, dan itu semua menentukan kapasitas manusia. Menjadi manusia yang terbatas atau manusia yang tidak terbatas adalah pilihan takdir. Namun hanya manusia yang tidak terbatas saja yang mampu merefleksikan fitrah secara total didalam dunia. Dan perintah bahwa manusia sebagai khalifah di bumi benar-benar dijalankan.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar