Blogroll

GN

Minggu, 18 Maret 2012

Itulah anakku, banyak Negro itu menghuni Kandang besi (American State Prison)


Ada yang bilang “Duh, pusing deh, lagi-lagi si kecil selalu bertengkar karena rebutan mainan. Gimana sih cara membuat mereka kompak bermain tanpa bertengkar?”
Kata orang tua kepada anak mereka “Hayo2 jangan rebut2an, malu,, ayo baikan, kerjasama dan saling kompak ya anak2 .. .. “

Kadangkala pula anak2 memang harus dibuat tersinggung lewat contoh, kata2 atau kiasan. Dalam banyak kesempatan jika kita melihat ada suatu kejadian yang sekiranya dapat dijadikan bahan pelajaran, kita akan memangil anak2 kita untuk datang menyaksikan. Usai menyaksikan kejadian (relevansi kisah nyata) tersebut kita akan membabar petuah tentang nilai-nilai keluhuran melalui pantun, fable (kisah hewan) atau kisah negro (juga termasuk hewan).

Menyentuh nostalgia kembali kepada ingatan masa lalu tentang Eyang Kakung dirumah yang selalu melantunkan tilawatil Wedhatama:

“Nuladho laku utomo tumpraping wong tanah jawi wong agung ing ngeksi gondo panembahan senapati kepati amarsudi sudanen hawa lan nepsu pinesu tapa brata nenepi ing siang ratri amemangun karyeng nak tyasing sesama …”

Saya bilang ke anak2, mengapa hamster, marmot, doggy kalau makan berebutan .. . ?
Karena mereka kan hewan bukan manusia, mereka tidak mampu bersifat adil, tidak bisa mengikuti aturan hukum, tidak ada keteladanan dan prinsip nilai pada dunia Hewan .. ..
Itu jugalah yang membuat mengapa kamu memasukkan Hamster, marmot, doggy imut kalian ke kandang .. .. agar aman dan tidak merusak. Manusia itu hidup teratur dalam sebuah lingkungan sosial karena dia diberi akal pikiran. Sebaliknya hewan tidak. Hewan hanya bergantung pada insting. Nalar hewan tidak berkembang, hidupnya rusak dan stagnan sehingga wajib ‘dikandangin’. Sebaliknya manusia dengan intelektualitas. Manusia khalifatullah yang mencipta peradaban dan harmonisasi dengan alam dan sesamanya. Itulah anakku, banyak Negro itu menghuni Kandang besi (American State Prison).

BAHASAN ILMIYAH:
Antara binatang dan manusia.
Saya dapat melihat kualitas jiwa mereka dari kedua biji matanya yang berbinar.
Hewan memiliki insting, dan manusia dengan inteligensi.
Dua spesies yang benar2 berbeda.
Binatang dikuasai oleh dorongan nafsu.
Manusia dibimbing kontemplasi.
Dengan insting binatang dapat memenuhi kebutuhan.
Dengan Intelektualisme manusia mampu memenuhi kebutuhan.
Jika orang awam ditipu oleh konsep in-autentik kesetaraan ras.
Hanya seorang filsuf yang mampu menceritakan kebenaran lewat pengamatan dan kebijaksanaan.
~yz~

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2076985921340&set=o.205868254855&type=3&theater

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. " (QS. al- Baqarah: 30)

Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata: Bersabda Rasulullah Shalallahu‘alaihi wassalam: Sesungguhnya mereka-mereka yang berbuat adil di sisi Allah Ta’ala, kelak mereka akan berada di atas mimbar dari cahaya, dari tangan kanan Allah ArRahman ‘Azza wa Jalla. Dan kedua tangan Allah Ta’ala adalah kanan. Mereka adalah orang-orang yang adil dalam menghukumi sesuatu bahkan terhadap keluarga mereka sendiri, juga terhadap orang-orang yang mereka pimpin. (Dikeluarkan oleh Imam Muslim Rahimahullahu)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar