Blogroll

GN

Senin, 12 Maret 2012

Keadilan Tersusun dari Penerimaan Terhadap Ketidakadilan, Maka Ia Dinamakan Sempurna

Sebab setiap ras itu tidak setara. Anggapan bahwa tiap2 ras2 setara adalah berbahaya dan dapat mengakibatkan krisis ekonomi, budaya, sosial, politik serta memicu sparatisme berkepanjangan seperti yang dialami oleh N.K.R.I. selama dasawarsa.

 Keadilan Tersusun dari Penerimaan Terhadap Ketidakadilan, Maka Ia Dinamakan Sempurna. Kesaksian wanita 1/2 dari Pria. Yahudi lebih tinggi Inteligensinya dari Non-Yahudi, dan segala bentuk ketimpangan lainnya dimuka bumi. Namun Tuhan telah menjelaskan fenomena tersebut didalam Ayat Sucinya, maksudnya agar manusia memahami keutamaan golongan tertentu dan mau menjadikan golongan itu sebagai teladan demi kemakmuran Bumi.

Setiap manusia itu pada dasarnya setara dengan hewan, namun yang membedakan antara manusia dengan hewan adalah sistem nilai. Sebuah sistem nilai dikatakan baik bila mampu memberikan kepada penganutnya perluasan ekspansi untuk menghadirkan akumulasi sarana penunjang hidup yg dipergunakan sebagai modal replikasi gen (melestarikan ras-nya). Sistem nilai itu kita namakan dengan budaya, budaya yang sukses selalu memberikan kepuasan hidup bagi pemeluknya, sebaliknya budaya yang gagal diibaratkan dengan pengetahuan yang salah, memandulkan, mempunahkan. Adalah kesalahan jika kita membenci bani Israel jika kaum tersebut dengan budayanya mampu membawa kaumnya yang sekita 0.2% populasi dunia untuk memonopoli Nobel 22% mayoritas. Jika kita membenci Yahudi, maka hanya satu cara untuk melawan Yahudi, yaitu dengan menjadi sama seperti mereka. Hasad*/ dengki, dikarenakan kita merasakan 'suatu kaum' lebih baik dari kita. Sedangkan Kebencian yang dilatarbelakangi bahwa kita lebih baik dari 'kaum lain' (kualitatif maupun kuantitatif), maka kita mulai mendekati kebijaksanaan. `~yz~

*Abul Laits Assamarqandi r.a. meriwayatkan dengan sanadnya dari Alhasan berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Hasad dan dengki itu keduanya akan memakan habis hasanat sebagai mana api makan kayu."

QS. an-Nisa 32: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".


 .............................

Stop Hasad!  

.............................

Hasad adalah virus yang sangat berbahaya dan bisa mematikan hati. Tatkala hasad telah masuk ke hati, bisa dipastikan ia akan merusak hati atau mematikannya, bila tidak segera ditangani atau diobati. Dan ajaibnya, hasad ini menjangkiti siapa saja tanpa pandang bulu, pria-wanita, tua-muda, miskin-kaya, cendikiawan maupun orang awam.
Meskipun begitu, hasad tak terjadi kecuali dari orang “yang rendah” kepada “yang lebih tinggi”. Apakah kepada yang lebih kaya darinya, atau kepada yang lebih pintar darinya, atau  lebih tampan atau cantik darinya, demikian seterusnya. Karena itu tak ada dalam sejarah, orang kaya hasad kepada orang miskin, orang pintar hasad kepada orang bodoh, orang ganteng dan cantik hasad kepada orang buruk rupa, demikian seterusnya.
Lantas apakah hasad itu? Imam An-Nawawi menjelaskan hasad adalah pengharapan akan hilangnya nikmat dari seseorang, sama saja apakah nikmat itu dalam masalah agama maupun dunia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan, “Janganlah kalian saling hasad (mendengki)…” (HR.Bukhari Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Karena itu Allah telah mengingatkan dalam kitab-Nya ekses-ekses negatif dari hasad ini.
Bukankah yang menyebabkan Iblis terusir dari surga dengan penuh kehinaan adalah karena kesombongan dan hasadnya kepada Adam?
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kalian kepada Adam”; maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?”  Iblis Menjawab: “Saya lebih baik darinya: Engkau ciptakan saya dari api sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah”. (Al-A’raaf:11-12)

Bukankah karena hasad pula terjadi pertumpahan darah antara kedua anak Adam?
“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. yang tidak diterima ini berkata: “Aku pasti membunuhmu!”(Al-Maidah:27)
Dan apa yang menghalangi Ahlulkitab untuk beriman kepada kenabian Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, setelah jelas bagi mereka perngetahuan tentang kedatangan nabi ini?
Bukankah “Mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri” (Al-Baqarah:146) ?
Dan apa yang menyebabkan mereka menyembunyikan kebenaran,
menentangnya bahkan justru bersemangat untuk mengeluarkan orang darinya, kalau bukan karena hasad dan dengki?
“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. ” (Al-Baqarah:109)
Dan apa pula yang menyebabkan kafir Quraisy menolak risalah Muhammad shallallahu’alaihi wasallam dan mendustakannya, setelah nyata bagi mereka kejujuran dan keluhuran akhlak beliau?
“Dan mereka berkata: “Mengapa Al Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Taif) ini? ” (Az-Zukhruuf: 31)
Sesungguhnya orang yang memelihara hasad pasti akan menderita, karena dengan hasadnya ia tetap tidak bisa merebut atau menghilangkan nikmat yang didapatkan orang yang dihasadinya.
Tatkala ia melihat ada orang yang dianugerahi kecerdasan melebihinya, sempitlah dadanya dan ia berharap kenikmatan itu lenyap darinya.
Tatkala ia mendapati ada orang yang lebih fasih darinya, sesaklah dadanya dan ia berangan-angan kalau kenikmatan itu hilang darinya.
Tatkala ada orang yang diberi kenikmatan berupa harta atau kedudukan yang melebihinya, mendidihlah darahnya dan tercekiklah lehernya, ia berharap kenikmatan itu musnah atau terlepas darinya.
Demikianlah keadaan orang yang hasad. Selain itu, disadari atau tidak, suka atau tidak, orang yang hasad sebenarnya telah menentang takdir yang Allah tetapkan atas dirinya atau orang lain, karena ia seakan-akan protes atas keputusan Allah yang telah melebihkan orang lain atasnya, seolah-olah ia berkata dalam hatinya, “Ya Allah, kenapa Engkau melebihkan fulan atas saya, padahal saya begini dan begitu .

Hasad yang dibolehkan

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh hasad kecuali kepada dua orang; seseorang yang Allah berikan harta kemudian ia menghabiskannya untuk kebaikan dan seseorang yang Allah berikan hikmah/ilmu kemudian ia mengamalkannya dan mengajarkannya. ” (HR.Bukhari Muslim dari  Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu)
Imam An-Nawawi berkata, “Yang dimaksudkan hasad di atas adalah Al-Ghibthah, yaitu mengangan-angankan sepertinya.”
Jadi, hadits di atas menunjukkan bolehnya berangan-angan menginginkan apa yang dimiliki orang lain dalam dua perkara, bukan menunjukkan bolehnya mengharapkan hilangnya kenikmatan yang di miliki orang lain dalam dua perkara di atas.
Obat hasad
Seluruh penyakit ada obatnya. Demikian disebutkan dalam salah satu hadits shahih. Dan hasad merupakan penyakit, maka pasti ada juga obatnya. Di antara obat yang dengan izin Allah bisa menyembuhkan seseorang dari hasad:
1. Menerima takdir yang telah Allah tetapkan atasnya dan atas orang lain.
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhulmahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) agar kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian, dan agar kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian.” (Al-Hadiid: 22-23)
Orang yang beriman kepada takdir  tidak terlalu gembira terhadap kenikmatan dunia yang ia dapatkan dan juga tidak terlalu sedih terhadap kenikmatan dunia yang luput darinya, sehingga dengan itu mendorongnya untuk ‘acuh’ terhadap kelebihan orang lain, maka terhindarlah ia dari hasad.
2. Memperbanyak melihat kepada orang yang lebih “rendah” darinya.
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian, dan jangan melihat orang yang ada di atas kalian, karena itu lebih pantas agar kalian tidak menganggap remeh nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (HR.Bukhari Muslim dari  Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Dengan sering menengok orang yang lebih rendah dari kita, mendorong kita untuk banyak bersyukur kepada Allah, sehingga dengan itu kitapun tak tersibukan dengan kelebihan orang lain.
3. Selalu dekat dengan orang yang dihasadi, mengingat-ingat kebaikannya dan mendoakannya tanpa sepengetahuannya.
“Doa seorang muslim kepada saudaranya tanpa sepengetahuannya dikabulkan. Di samping kepalanya ada seorang malaikat yang diwakilkan untuknya, setiap kali ia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat ini berkata, “Amin dan bagimu juga apa yang kamu doakan” (HR.Muslim dari Abu Darda’ radhiyallahu’anhu)
Dengan selalu dekat dengan saudaranya, mengingat-ingat kebaikannya dan mendoakan kebaikan untuknya, memperkecil kemungkinan munculnya hasad. Karena bagaimana mungkin ia akan tega membenci dan iri kepada orang yang selama ini dekat dengannya dan telah berbuat baik kepadanya?
Sungguh telah ada teladan yang baik dalam hal ini pada diri para sahabat Nabi, yaitu dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Di antara mereka ada yang miskin dan ada yang kaya, dan di antara mereka ada yang memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat dan ada yang lebih rendah darinya, akan tetapi keadaan itu tidak mendorong mereka untuk saling dengki dan hasad, justru mereka adalah “orang-orang yang keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” (Al-Fath:29)
Dan juga menjadi ciri mereka: “mereka mengutamakan (saudara-saudara mereka), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). ” (Al-Hasyr: 9)
.
Mudah-mudahan kita bisa meniru dan meneladani mereka.
Wallahu a’lam
Jakarta, 5 Ramadhan 1431/ 15 Agustus 2010
Maraji’ :
1. Al-Quranul karim
2. Riyadhush shalihin
3. Kitab-kitab lainnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar