Blogroll

GN

Sabtu, 10 Maret 2012

TUJUAN FAHAM PLURALISME, LIBERALISME DAN KESETARAAN ADALAH UNTUK MEMBANGKRUTKAN STANDAR EVOLUSI SUATU RAS DAN NEGARA



Manusia pada ghalibnya adalah proses evolusi yang berkesinambungan sepanjang sejarah bumi. Evolusi manusia 3.5 milliar tahun lampau adalah bermula lewat sebutir bakteri bersel satu jauh terselubung didalam dasar laut yang mengembangkan kemampuan adaptasi pragmatis (pragmatic explanation of morality) dalam hubungan timbal balik antara ketersediaan daya dukung materi penunjang hidup terhadap hasrat replikasi. Milliaran tahun proses evolusi harus kita lalui hingga menjadi mahluk kompleks dengan jaringan organ seperti apa yang kita lihat di tahun 2012 sekarang ini.
~yz~

Di tempat kerja saya selalu wanti2 kepada bagian personalia, bahwa profesi tertentu hanya bagi ras tertentu. Jangan sampai terjadi “Wrong races on the righ Place”.

Disini Promosinya adalah “Pemuliaan Ras” dan bukan “Pemurnian Ras”, sebab kalau umat manusia seluruhnya mau dimurnikan, maka mereka akan kembali ke tahap semurni2nya ras mereka, yaitu sebagai manusia purba cro-magnon di jaman Neanderthal yang bermula pada 2 juta tahun lampau (gambarnya diatas kiri).
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2338161970578&set=o.205868254855&type=3
~yz~

“Pemuliaan manusia adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk mengubah susunan genetik manusia, baik individu maupun secara bersama-sama (populasi) dengan tujuan tertentu. Pemuliaan manusia kadang-kadang disamakan dengan penangkaran manusia, kegiatan memelihara manusia untuk memperbanyak dan menjaga ‘kemurnian’; pada kenyataannya, kegiatan penangkaran adalah sebagian dari pemuliaan. Selain melakukan penangkaran, pemuliaan berusaha memperbaiki mutu genetik sehingga diperoleh manusia yang lebih bermanfaat.”
Beda ras, beda pula tingkat Inteligensinya, ini penelitian ilmiah yg didukung statistika longitudinal. Ras yang kurang inteligensinya terancam dibahas di group ini :-) >> http://www.facebook.com/groups/132359106776606/
Evolusi berbasis seleski mengakibatkan Sebagian Wilayah Asia Timur mengalami peningkatan IQ (terutama pada periode jaman es). KUTIPAN: "Teori saya telah diajukan untuk menjelaskan perbedaan ras ini dalam IQ adalah bahwa ketika manusia purba bermigrasi dari Afrika ke Eurasia mereka menemui kesulitan untuk bertahan hidup selama musim dingin. Masalah ini terutama parah selama zaman es. Makanan nabati tidak tersedia untuk sebagian besar tahun dan kelangsungan hidup diperlukan berburu dan menyiratkan kepada binatang besar untuk makanan dan kemampuan untuk membuat peralatan, senjata dan pakaian, untuk membangun tempat penampungan dan membuat api. Masalah-masalah ini diperlukan kecerdasan yang lebih tinggi dan diberikan tekanan seleksi untuk intelijen ditingkatkan, terutama di Timur." http://sq.4mg.com/IQdifferences.htm

...................................
Kategori Liberal

Menurut Peneliti INSIST Adian Husaini, kalangan liberal terbagi dalam empat kategori, yaitu: Liberal Profesional, Liberal Amatir, Liberal Freelance, dan Liberal Volunteer. Yang termasuk liberal profesional adalah mereka yang hidup-matinya diperuntukkan bagi si penyandang dana. Makhluk jenis ini selalu menyebarkan paham liberal dalam tulisan-tulisan dan ceramahnya, berusaha meliberalkan orang lain, merasa paling benar dengan keliberalannya, dan menganggap orang yang tidak liberal itu salah. Mereka tak sungkan-sungkan menyerang siapapun yang mengganjal liberalisme.

Sedangkan liberal amatir adalah mereka yang ilmu keliberalannya masih dangkal. Sikap dan pemikiran liberalnya cuma membebek alias ikut-ikutan saja. Meski tidak mampu menuangkan gagasan liberal lewat tulisan, tapi berani tampil sebagai pembela liberalisme. Makhluk inilah yang menjadi penggembira, saat diadakan diskusi atau seminar, sekalipun dengan riuh tepukan tangan dan tertawa ledekan (olok-olok) sebagai support.

Adapun liberal freelance adalah orang yang mendapat imbalan ”honorer” dari gagasan dan wacana sepilis yang ia tulis di media massa. Lalu Liberal volunteer adalah orang yang sudah mapan secara materi dan status sosialnya. Ia menjadi liberal karena basic pendidikan dan pergaulannya. Tanpa harus dipengaruhi, orang ini sudah liberal dengan sendirinya.

Yang menarik, Litbang Depag pernah melaporkan hasil penelitiannya tentang paham liberal keagamaan di lingkungan UIN Jakarta. Salah satu organisasi mahasiswa UIN yang diteliti adalah Formaci (Forum Mahasiswa Ciputat) yang berpaham liberal. Forum mahasiswa inilah yang menolak kewajiban jilbab di lingkungan UIN, mendukung sekularisasi, menolak penerapan syariat Islam di berbagai daerah. Dengan berpegang pada paham kebebasan berpikir dan atas nama HAM, anggota Formaci sering menjadi saksi pernikahan beda agama.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Amin Djamaluddin pernah mengatakan, ada kekuatan terselubung untuk menggarap sejumlah kelompok muda Islam. Tujuannya adalah mencabut pemahaman generasi muda Islam dari akarnya, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sasaran utama ‘proyek’ ini adalah anak-anak muda NU dan Muhammadiyah. “Mereka bangga karena telah berhasil menggarap kalangan muda NU dan Muhammadiyah. Bukan tidak mungkin, mereka berupaya menggarap kalangan muda Persatuan Islam (Persis),” ujarnya.

Agar virus liberalisme tak semakin mengganas di tubuh ormas Islam, langkah paling efektif adalah mencegah. Kalau pun sudah terjangkit, harus mendapat vaksin untuk mensterilkan sekaligus merontokkan virus yang bersarang. Untuk membendung liberalisme, ormas Islam seharusnya jangan pasif. Ormas Islam harus menyiapkan kader terbaiknya untuk mengikis paham sesat menyesatkan.

Jika kaum liberal giat mengusung liberalisme lewat media massa yang mendukungnya, sebut saja Koran dan Majalah Tempo, sedangkan tokoh Islam malas menulis, dan tidak menjadikan media Islam yang ada sebagai alat perjuangan untuk mengcounter propaganda mereka. Ingat, umat Islam punya musuh bersama (common enemy) yang harus dibendung secara bersama pula.

Ketua MUI KH Kholil Ridwan mengimbau, ”Para aktivis yang ada di ormas Islam hendaknya waspada dan kompak, bertekad bulat untuk membendung liberalisme. http://www.voa-islam.com/counter/liberalism/2012/03/07/18062/kh-cholil-ridwan-liberalisme-musuh-bersama-umat-islam/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar