Blogroll

GN

Jumat, 30 Maret 2012

Laku Masyarakat Kejawen


Tirakat

Manusia jawa(tiyangJawi) pada umumnya rela /mau dengan sengaja, menempuh kesukaran dan ketidaknyamanan untuk maksud-maksud ritualdalam  budaya ritual keagamaan, yangberakar dari pikiran bahwa usaha-usaha seperti itu dapat membuat orang teguh imannya dan mampu mengatasikesukarankesukaran,  kesedihan dankekecewaan dalam hidupnya. Mereka juga bahwa orang bisa menjadi lebih tekun, dan terutama bahwa orang yang telah  melakukan usaha semacam itu kelak akanmendapatkan pahala.Tirakat kadangkadang dijalankan dengan berpantang makan selain nasi putih saja (Mutih)pada  hari senin dan kamis, dengan jalanberpuasa pada bulan puasa (Siyam) ada terkadang juga berpuasa selama beberapa hari (Nglowong) menjelanghari-hari  besar Islam, seperti padaBakda Besar (Bulan pertama menurut perhitungan orang Jawa), yaitu bulan Sura. Orang Jawa juga mempunyai adat untukhanya  makan sedikit sekali (tidak lebihdaripada yang dapat dikepal dengan satu tangan) ngepel, untuk jatah makannya selama satu atau dua hari, atauadat  untuk berpuasa dan menyendiri dalamsuatu ruangan (ngebleng), bahkan ada juga yang melakukannya di dalam suatu ruangan yang gelap pekat, yangtidak  dapat ditembus oleh sinar cahaya(patigeni)  Tirakat dapat juga dijalankanpada saat-saat khusus, misalnya pada waktu orang menghadapi suatu tugas berat, waktu mengalami krisis dalam keluarga,  jabatan, atau dalam hubungan dengan oranglain, tetapi dapat juga pada waktu  suatumasyarakat atau negara berada dalam suatu masa bahaya, pada waktu  terkena bencana alam, epidemi dan sebagianya.Dalam keadaan seperti itu  melakukantirakat dapat dianggap sebagai tanda rasa prihatin yang dianggap  perlu oleh orang Jawa bila seseorang beradadalam keadaan bahaya.


Bertapa( Tapabrata )

Tapabrata dianggapoleh para penganut Agami Jawi sebagai suatu hal yang sangat penting, Dalamkesusateraan kuno orang kuno, konsep tapa dan tapabrata diambil langsung darikonsep Hindu tapas, yang berasal dari bukubuku Veda. Selama berabad-abad parapertapa dianggap sebagai orang keramat, dan anggapan bahwa dengan menjalankankehidupan yang ketat dengan disiplin tinggi, serta mampu menahan hawa nafsu,orang dapat mencapi  tujuan-tujuan yangsangat penting. Dalam cerita-cerita wayang kita sering dapat menjumpai adanyatokoh pahlawan yang menjalankan tapa. Orang jawa mengenal berbagai carabertapa, dan cara-cara itu telah disebutkan oleh J. Knebel (1897 : 119-120 )dalam karangannya mengenai kisah Darmakusuma, murid dari seorang wali di abadke 16, berbagai cara menjalankan tapa adalah :
1.Tapangalong, dengan bergantung terbalik, dengan kedua kaki diikat pada dahansebuah pohon.
2.Tapanguwat, yaitu bersamadi disamping makam ( nenek-moyang anggota keluarga,atau orang keramat, untuk suatu jangka waktu tertentu.
3.Tapabisu, dengan menahan diri untuk tidak berbicara, cara bertapa semacamini biasanya didahului oleh suatu janji.
4.Tapabolot, yaitu tidak dan tidak membersihkan diri selama jangka waktu tertentu.
5.Tapangidang, dengan jalan menyingkir sendiri ke dalam hutan.
6.Tapangramban, dengan menyendiri di dalam hutan dan hanya makan tumbuh-tumbuhan
7.Tapangambang, dengan jalan meremdam diri di tengah sungai selama beberapawaktu yang sudah ditentukan.
8.Tapangeli, adalah cara bersamadi dengan membiarkan diri dihanyutkan arusairdi atas sebuah rakit.
9.Tapatilem, dengan cara tidur untuk suatu jangka waktu tertentu tanpa makanapa-apa.
10.Tapamutih, yaitu hanya makan nasi saja, tanpa lauk pauk.
11.Tapamangan, dilakukan dengan jalan tidak tidur, tetapi boleh makan.

Ketiga jenis tapa yang tersebut terakhir, sebenarnya juga dilakukan olehorangorang yang hanya menjalankan tirakat aja, oleh karena itu batas antaratirakat dan tapabrata itu tidak begitu jelas. Walaupun demikian bahwa kitaharus memperhatikan bahwa ke 11 jenis tapabrata itu jarang dilakukan secaraterpisah, semua biasanya dijalankan dengan tata urut tersendiri, atau dilakukandengan cara menggabung-gabungkan. Oleh karena itu tapa semacam itu mirip dengantapas pada orang hindu dahulu, sehingga dengan demikian ada suatu perbedaanfungsional antara tirakat dan tapabrata. Namun sering terjadi bahwa orangmelakukan tapabrata bersamaan dengan samadi, dengan maksud untuk memperolehwahyu. Tentu saja tujuan dari tapa semacam ini adalah untuk mendapatkankenikmatan duniawian, akhirnya perlu disebutkan bahwa pada orang Jawa tapamerupakan salah satu cara penting dan utama untuk bersatu dengan Tuhan.


Meditasiatau Semedi.

Bahwa meditasi dan tapa adalah sama, serta perbedaan antarakeduanya hanya terletak pada intensitas menjalankannya saja. Teknik-teknikserta latihanlatihan untuk melakukan meditasi ada bermacam-macam, yaitu dariyang sangat sederhana, seperti memusatkan perhatian pada titik-titik hujan yangjatuh ditanah, hingan yang sukar dan berat dijalankan, seperti menatap cahayayang terang benderang dari dalam sebuah gua yang gelap ditepi pantai, dengangemuruh ombak sebagai latar belakangnya, sambil berdiri dengan posisi yangsukar selama 12 jam berturut-turut. Meditasi atau semedi memang biasanyadilakukan bersama-sama dengan tapabrata, orang yang melakukan tapa ngelimisalnya, tidak hanya duduk diatas rakitnya saja sambil mbengong, tidak berbuatapa-apa, ia biasanya juga bermeditasi. Sebaliknya meditasi seringkali jugadijalankan bersama dengan suatu tindakan keagamaan lain, misalnya denganberpuasa atau tirakat. Maksud yang ingin dicapai dengan bermeditasi itu adabermacam-macam, misalnya untuk memperoleh kekuatan iman dalam menghadapi krisissosial ekonomi atau sosial politik, untuk memperoleh kemahiran berkreasi ataumemperoleh kemahiran dalam kesenian, untuk mendapatkan wahyu, yangmemungkinkannya melakukan suatu pekerjaan yang penuh tanggung jawab atau untukmenghadapi suatu tugas berat yang dihadapinya. Namun banyak orang melakukanmeditasi untuk memperoleh kesaktian ( kasekten ) disamping untuk menyatukandiri dengan sang Pencipta


Nulada laku utomo,
Tumrape wong tanah jawi
Wong Agung hing ngeksi ganda Panembahan Senopati
Kapati hamarsudi,sudane howo lan nepsu
Pinesu topobroto,tanapihing siang ratri
Amemangun karianak tyasing sasomo
Samangsane pasamuan,
Memangun martomartani,
Sinambi hing saben masa,kalakalaning asepi
Lelana teki teki,ngayuh geyoganing kayun,
Kayungnyun heninging tyas ,sanetyasa pinrihatin
Punguh pangah cegah dahar lawan nindra
Saben nindri saking wisma
Lelono laladan sepi
Ngisep sepuhing supana,mrihprana pranaweng kapti
Titising tyas marsudi , mardawaning budi tulus
Mesu reh masudarman ,neng tepining jolo nidhi
Sruning brata kataman wahyu jatmiko
Dlepih (petilasaan tarekat sang Panembahan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar