Blogroll

GN

Jumat, 02 Maret 2012

Mahasiswa Singapura Belajar Peradaban Melayu ke Aceh


Para mahasiswa National University of Singapore (NUS), didampiingi Profesor Jan Van
Der Putten, melihat-lihat naskah kuno Aceh, di rumah Tarmizi A Hamid, di Ie Masen,
Banda Aceh, Rabu (22/02/2012

Banda Aceh - Delapan Mahasiswa National University of Singapore (NUS), sejak tiga hari terakhir melakukan kunjunga ke sejumlah situs bersejarah di Aceh. Para mahasiswa dari jurusan “Pengajian (Pengkajian-red) Melayu” ini sedang melakukan penelitian tentang jejak sejarah dan peradaban Melayu di Aceh.

”Saya rasa Aceh adalah salah satu dari sedikit daerah yang masih menyimpan banyak bukti sejarah Melayu, makanya saya sering memilih Aceh sebagai salah satu daerah yang wajib dikunjungi oleh mahasiswa saya,” kata Profesor Jan Van Der Putten, yang mendampingi para mahasiswanya, saat berkunjung ke rumah Kolektor Naskah Kuno Aceh, Tarmizi A Hamid, di Ie Masen, Banda Aceh, Rabu (22/02/2012).

“Masih sangat banyak bukti peradaban Melayu yang belum dikaji secara mendalam di Aceh,” kata Profesor asal Belanda ini.

Selama di rumah Tarmizi A Hamid, para mahasiswa ini mempelajari sejumlah kitab kuno yang umumnya ditulis dalam huruf jawi (bahasa Melayu dan Aceh).

Mereka mendapat penjelasan dari ahli filologi (kajian naskah kuno) dari Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry, Hermansyah. Karena huruf-huruf Jawi maupun kalimat yang tertulis dalam kitab itu sangat sulit dibaca oleh orang awam.

Zuliana, mahasiswa tahun ke-4 di NUS bidang Pengajian Melayu mengatakan, selain berkunjung ke rumah Tarmizi A Hamid, mereka juga sudah berkunjung ke Musium Aceh, Kampus Darussalam dan beberapa lokasi bersejarah lainnya.

“Insya Allah nanti sore kami akan ke Mahkamah Syar’iyah. Nanti juga akan ada kunjungan ke lokasi-lokasi sejarah tsunami. Rencananya kami masih ada waktu dua hari lagi di Aceh,” kata dia.

Uniknya, dari 8 mahasiswa jurusan Pengajian Melayu itu, hanya ada satu laki-laki, dan dia adalah keturunan Cina-Singapura. Dia adalah Ming Han, juga mahasiswa tahun ke-4 di NUS. (Serambi)

Kaji Naskah Kuno Aceh

Kedelapan Mahasiswa jurusan Pengajian Melayu National University of Singapore (NUS), sejak tiga hari terakhir melakukan pengkajian terhadap sejumlah bukti sejarah peradaban dunia Melayu di Aceh. Salah satu sumber pengkajian adalah melalui naskah kuno yang diyakini masih bertebaran di kalangan masyarakat Aceh.

“Dalam Sastra Melayu Klasik, posisi Aceh sangat penting. Di sini kita bisa melihat kitab-kitab lama yang ditulis oleh ulama dan penyair Aceh masa lalu,” kata Profesor Jan Van Der Putten, yang mendampingi para mahasiswanya, saat berkunjung ke rumah Kolektor Naskah Kuno Aceh, Tarmizi A Hamid, di Ie Masen, Banda Aceh, Rabu (22/2).

Putten berpendapat, kajian naskah kuno di Aceh punya tantangan dan keunikan tersendiri. Para mahasiswanya bisa langsung melihat naskah-naskah itu dari tangan para pewaris asli.

“Di Singapura memang ada juga naskah, sama seperti di Amerika atau belahan dunia lain. Tapi naskah-naskah ini sudah disimpan di gedung-gedung megah, gedung dingin ber-AC, sama sekali terpisah dari asal-usulnya. Makanya saya bawa anak murid saya ke sini (Aceh), agar mereka bisa melihat sendiri bagaimana suatu naskah dapat dilihat dalam konteks aslinya,” ujar Profesor asal Belanda ini.

Ia juga mengapresiasi kerja orang-orang Aceh, seperti Tarmizi A Hamid, yang dengan gigih mengumpulkan naskah kuno, mencoba menyelamatkan tradisi dengan membuka peluang bagi generasi yang ingin meneliti dan mengkaji sejarah kejayaan Bangsa Melayu.

“Itu amat sangat saya hargai. Yang mengkhawatirkan, ada pihak yang melihat ini naskah-naskah ini sebagai sesuatu yang sudah kedaluwarsa, dari masa lampau yang tidak sesuai lagi dengan masa sekarang. Itu selalu ada tantangan, bagaimana kita bisa menerjemahkan naskah ini untuk kepentingan masa kini, bahkan untuk masa depan,” ujarnya.(serambi)

Read more: http://www.atjehcyber.net/2012/02/mahasiswa-singapura-belajar-peradaban.html#ixzz1o471jjbK

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar