Blogroll

GN

Jumat, 02 Maret 2012

GAYA HIDUP ZINA MENGUNDANG BENCANA


(bagian 1)
Oleh : Redaksi 08 Feb 2007 – 8:30 pm
Dari Ibnu Abbas, ujarnya, Nabi SAW bersabda: “Lima hal yang menyebabkan kehancuran, pertama, kaum yang suka merusak perjanjian, mereka pasti dikuasai oleh musuhnya. Kedua, tidak melaksanakan hukum-hukum Allah, niscaya mereka akan mengalami kemelaratan. Ketiga, membiarkan pelacuran merajalela, niscaya bencana kematian mengancam mereka. Keempat, mencurangi takaran dan timbangan, niscaya mereka akan mengalami paceklik dan berbagai macam penyakit. Kelima, tidak menunaikan zakat, niscaya mereka sulit mendapatkan hujan. ” (HR Thabrani)
TRAGEDI kematian di Indonesia, dengan berbagai sebab, sungguh memilukan. Derita rakyat Indonesia merupakan resultante dari Dosa-dosa besar yang dilakukan para pemimpin negara di masa lalu. Hadits di atas menjelaskan petunjuk Rasulullah SAW untuk menghindari kehancuran. Yaitu, berpegang teguh pada norma hidup yang digariskan Syari’at Islam.
Bersikap jujur, melaksanakan hukum Allah, peduli dengan penderitaan rakyat, memberantas pelacuran, tidak menipu dalam jual beli, dan membersihkan harta dengan mengeluarkan zakat. Dengan kondisi Indonesia yang kian parah ditimpa musibah, apa sesungguhnya yang dilakukan para pemimpin bangsa ini?
Sejak awal kemerdekaan, para pemimpin negeri ini sudah akrab dengan perzinahan, dan segala bentuk kemungkaran. Pada tanggal 6 Desember 1959, Presiden Uni Soviet, Nikita Khruschev, berkunjung ke Jakarta. Kunjungan tersebut kemudian mendapat balasan dari Presiden Soekarno pada 1960. Sepulang dari Moskow, BK (Bung Karno) memerintahkan pembangunan Monumen Nasional (Monas) dan Stadion Olahraga Senayan, padahal saat itu negara sedang dalam keadaan pailit dan rakyat dilanda kelaparan. Konon BK terinspirasi oleh kemegahan stadion Moskow.
Tapi apa sesungguhnya yang terjadi saat BK berada di Moskow? Sejarah mencatat, masuknya paham komunis di Indonesia, antara lain berkat kelemahan Bung Karno yang mudah diperdaya komunis Soviet dan KGB yang gemar mengumpan pelacur cantik.
KGB menyediakan kamar khusus untuk BK di Moskow. BK ditemani seorang wanita super cantik dan super seksi yang boleh digaulinya di tempat tidur. Wanita itu adalah seorang pelacur kelas tinggi yang mengemban tugas khusus untuk melayani tamu negara, dan direkrut sebagai agen rahasia oleh KGB. Dari balik cermin, terpasang kamera film yang merekam hubungan mesum antara BK dengan sang pelacur (agen KGB).
Episode berikutnya, BK diajak bersama-sama untuk menonton hasil rekaman tersebut. Agen KGB itu memberitahukan bahwa semua ini sudah diatur. Mereka memiliki ribuan pelacur yang terlatih. Rekaman ini bisa diedarkan dan diputar di depan Bangsa Indonesia agar Presiden Soekarno jatuh martabatnya. Tapi kalau bendera komunisme dan ajaran Marxisme terus berkibar dan berkembang di Indonesia, rekaman tersebut akan dumusnahkan. Mereka punya beberapa copy dan siap diedarkan di bagian dunia manapun. Akhirnya Soekarno mengizinkan PKI berkibar di Indonesia dengan konsep Nasakom. Sebagian tokoh nasional, terutama di Sumatera Barat, menolak konsep ini, sehingga meletuslah pemberontakan PRRI/Permesta (1960) yang dibekingi CIA.
Di lingkungan KGB ada sebuah departemen yang mengamati tingkah-laku raja-raja dan para Presiden di seluruh dunia. Bagi KGB, BK sangat mudah ditaklukkan, karena punya kelemahan fatal, yaitu sangat gemar berzinah. BK juga dikenal sangat romantis, dan pandai merayu. Sekali merayu, maka sang wanita akan menjadi kekasihnya. Salah satu di antaranya, Dewi Soekarno seorang pelacur kelas tinggi dari Jepang.
Keras Tolak Poligami
BK adalah Presiden RI pertama yang gencar menolak poligami, namun setuju dan sekaligus menjadi pelaku perselingkuhan (berzinah). Sebagai wujud penolakannya, BK pernah berpolemik soal poligami dengan sejawatnya, Mohammad Natsir, mantan Menteri Penerangan era Soekarno dan Ketua Masyumi. Intinya, BK dengan berbagai argumen menolak konsep poligami, sedangkan Mohammad Natsir tidak menolak poligami karena itu merupakan syari’at yang datangnya dari Allah Yang Maha Menghetahui.
Kenyataannya, Mohammad Natsir hidup monogami sampai akhir hayatnya, sedangkan BK justru mempraktekkan poligami, istrinya berceceran di mana-mana. Selain berpoligami, BK juga mempraktekkan perselingkuhan (perzinahan) dengan banyak wanita.
Sudah menjadi rahasia umum pada masa itu, bahwa BK memang doyan perempuan. Selain mempunyai isteri resmi lebih dari satu, BK juga punya gundik alias wanita simpanan. Bila BK sudah bosan dengan salah satu gundiknya, maka sang gundik pun diberikan kepada orang terdekatnya. Salah satu dari sekian banyak gundik BK adalah seorang wanita asal parahiangan (Bandung). Ketika BK sudah bosan, sang gundik pun diserahkan kepada Brigjen Sabur untuk dijadikan istri resmi kedua.
Ketika masih berjaya, Brigjen Sabur menempatkan isteri keduanya itu di sebuah kawasan yang secara administratif kini dikenal dengan nama kelurahan Tebet Timur (Jakarta Selatan). Ketika meletus G30S/PKI, sang istri kedua Brigjen Sabur itu pulang kampung ke Bandung, sekaligus menghilangkan diri agar tidak dikait-kaitkan dengan Brigjen Sabur yang kala itu didakwa terlibat G30S/PKI. Rumah bekas istri kedua Brigjen Sabur yang juga bekas teman berzinah BK ini, pada tahun 1970-1980 menjadi rumah dinas badan intelejen. Kini, berdekatan dengan rumah bersalin Yulia di jalan tebet timur. Kawasan itu pada masanya memang dikenal sebagai ‘kompleks BAKIN’.
Usaha Usaha membendung Syariat Islam jauh hari sudah dilaksanakan yang salah satunya diberlakukannya UU Perkawinan 1974 – Dalam gambar terlihat mahasiswa muslim di DPR tahun 1973 melakukan “Protes anti RUU Perkawinan”. Adapun azas UU Perkawinan yang berlaku sekarang ini adalah azas Monogami sedangkan sesuai syarat-nya secara hukum untuk berpoligami hampir tidak mungkin. (sumber Tempophoto)
Bagaimana dengan Bung Hatta? Memang tidak pernah terdengar skandal seks seputar kehidupannya. Namun, untuk melihat keberhasilan seseorang kita bisa melihat bagaimana kualitas anak-anaknya. Seperti kata pepatah, untuk melihat kualitas sebuah pohon, lihatlah buah yang dihasilkannya. Bung Hatta memang bersih dari skandal seks, begitu juga dengan isteri dan anak-anaknya.
Namun, Halida Hatta, salah satu anak perempuan Bung Hatta, sarjana lulusan Universitas Indonesia (UI) yang gemar menekuni hobi mendaki gunung Gede pada waktu masih menjadi mahasiswi, ketika Abdullah Gymnastiar berpoligami, ia menjadi salah satu provokator yang memanas-manasi kaum perempuan untuk membenci poligami, termasuk memberi nilai negatif kepada pelakunya (Gymnastiar).
Melalui sms (short messages services) Halida mengimbau agar kaum perempuan meneruskan isi pesan singkatnya yang tidak edukatif dan emosional itu. Selama ini kita tidak pernah mendengar Halida Hatta bersuara lantang soal perselingkuhan, perkosaan dan aneka acara televisi yang merendahkan martabat wanita.
Artinya, Halida Hatta termasuk dalam barisan orang-orang yang anti poligami namun tidak anti pezinahan.
Kakak kandung Halida, yaitu Meutia Hatta yang dipercaya SBY menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, termasuk yang anti poligami juga.
Anehnya, Meutia dan aktivis perempuan lain yang anti-poligami, tidak pernah menunjukkan secara terus terang sikap anti terhadap kasus perzinahan sebagaimana dilakukan Maria Eva dan Yahya Zaini.
Padahal, setelah berzina berkali-kali dengan Yahya Zaini, kemudian hamil, namun karena Yahya dan istrinya tak menghendaki kehamilan itu, Eva tidak berkeberatan untuk melakukan aborsi (pembunuhan janin). Untuk hal ini pun Meutia juga tidak mengeluarkan kecaman atas tindakan pembunuhan janin itu.
Di masa orde baru, perzinahan seakan menjadi gaya hidup pejabat istana. Soeharto pernah diisukan berselingkuh dengan artis panas pada masa itu, yaitu RE. Konon dari hubungan mereka lahir seorang anak laki-laki bernama DY yang kini menjadi anggota legislatif, juga sebagai pemain sinetron dan presenter. Soeharto bisa mencicipi RE konon berkat campur tangan PS adik tirinya yang telah lebih dulu mencicipi RE.
Bagaimana dengan pejabat lainnya? Hampir sulit menggali informasi berkenaan dengan itu. Namun, media massa beberapa tahun lalu pernah mengulas kisah seorang wanita teman selingkuh Try Soetrisno. Wanita itu sebelumnya menjadi rebutan antara Try dengan jenderal Edi Sudrajat (almarhum), namun karena Try lebih ganteng, sang wanita lebih memilih Try yang oleh Benny Moerdani disebut sebagai jenderal santri.
Nama lain yang juga pernah menyeruak ke ruang publik adalah perselingkuhan Abdul Gafur, mantan tokoh HMI, mantan tokoh KNPI, pernah menjabat beberapa kali sebagai menteri, dan mantan anggota legislatif dari Golkar. Mantan KSAD jenderal WA yang beristri seorang wanita yang masih keponakan Ibu Tien Soeharto juga pernah diwartakan suka berselingkuh. Karena ketahuan, maka sang jenderal pun dicopot dari jabatannya setelah sang keponakan mengadu kepada bibinya. (bersambung)

GAYA HIDUP ZINA MENGUNDANG BENCANA (bagian 2)
Oleh : Redaksi 09 Feb 2007 – 12:10 am
Selingkuh Paling Heboh
Setelah Soekarno (BK), Presiden yang paling menghebohkan skandal seksnya adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Namun demikian GD belum bisa menandingi BK setidaknya dari segi jumlah. Ketika kasus perzinahan Presiden RI ke-4 ini terkuak, publik mengira hanya Aryanti satu-satunya partner zinahnya. Ternyata tidak. Aryanti sendiri pernah memergoki GD sedang memeluk seorang wanita di kantor PBNU, yang diakui sebagai ‘adiknya’ bernama Puteri, isteri seorang pilot.
Nama lain, Siti Farikha janda dari Desa Angin-angin, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang kebagian kucuran dana Rp 5 miliar dalam kasus korupsi dana Yayasan Karyawan Bulog. Masih ada sejumlah nama lain yang bisa diungkap. Namun yang paling heboh adalah Aryanti.
Pada Mei 1995, Aryanti berkenalan dengan Haji Sulaiman di Arab Saudi. Beberapa bulan kemudian, Aryanti dikenalkan kepada GD. Mereka lantas makan sate.
Sejak itu mereka sering berkomunikasi via telepon. Lima bulan kemudian, Oktober 1995, Aryanti dan anak perempuannya, bersama Haji Sulaiman dan Gus Dur pergi ke Bali menginap di rumah Ibu Gedong Bagus Oka. Di sini terjadi hubungan intim yang pertama. Awalnya Aryanti menolak, karena belum dinikahi GD, apalagi ia masih terikat pernikahan dengan M. Yanur. Ketika itu Gus Dur bilang, “Nggak apa-apa, nanti kita tobat.
Pertemuan intim selanjutnya berlangsung di Putri Duyung Cottages (Ancol, Jakarta Utara), Hotel Equatorial (Tanah Abang, Jakarta Pusat), Hotel Horison Bekasi, dan paling sering di Hotel Harco (jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat). Menurut pengakuan Aryanti, Hotel Harco sudah seperti rumah sendiri. Selain itu, Hotel Harco juga dekat dengan kantor GD. “Kadang-kadang saya disuruh booking dari rumah. Begitu saya sampai di sana, dia jalan saja dari kantornya. Tapi, kadang-kadang pak Sulaiman suka ngantar ke situ.” Begitulah pengakuan Aryanti yang diungkap di depan para wakil rakyat di Gedung DPR RI sebagaimana dilaporkan media massa.
Pada 22 Oktober 1996, Aryanti bercerai dengan suami keduanya, M. Yanur. Setelah itu, Aryanti makin sering bertemu dengan GD. Pada 1997, Aryanti memergoki Gus Dur sedang memeluk seorang perempuan muda di kantor PBNU. Sejak itu hubungan Aryanti dengan GD mulai renggang. GD mulai banyak menolak bertemu Aryanti. Lama-lama hubungan terputus. Apalagi setelah GD terserang stroke yang pertama kali, Oktober 1997, GD-Aryanti tak lagi berhubungan. Bahkan hubungan per telepon pun tidak lagi terjalin. Dua tahun kemudian, Oktober 1999, Gus Dur dilantik menjadi presiden keempat. Ketika Gus Dur dilantik jadi presiden, dan ditayangkan di televisi, salah seorang tetangga Aryanti ada yang menelepon dan mengucapkan selamat. “Selamet nih mantan istri presiden.
Bagi yang tidak pernah mengenal lika-liku selingkuh alias zinah, pendirian dan perilaku GD tentu sangat aneh dan musykil. Pada saat ia sedang menjadi pemimpin sebuah ormas keagamaan, di tempat yang sama dan pada saat bersamaan ia melakukan perbuatan yang dilarang agama. Mungkin GD adalah uswah sayyiah (contoh buruk) paling sempurna dari konsep sekular versi Ulil Abshar Abdalla (keponakan GD), tentang demokrasi sebagai wadah bersatunya energi keshalihan dengan energi kemaksiatan sekaligus. GD merupakan contoh sempurna dari manusia penganut sepilis (sekularis, pluralis dan liberalis).
Tentu tidak hanya pendirian dan perilaku GD yang terlihat aneh. Yang juga terasa musykil justru sikap dan pendirian para kyai di sekitarnya. Dulu, Subchan ZE yang ketika itu menjabat sebagai Ketua I PBNU dan mantan wakil Ketua MPRS, pernah diskors dari jabatannya sampai dua kali, karena ditemukan sebuah foto yang mengambarkan ia sedang berdansa di suatu tempat. Juga, komunitas NU pernah menggembosi PPP di tahun 1987, dengan mempublikasikan dan mengeksploitasi foto Husen Naro anak Jailani (John) Naro Ketua PPP yang sedang ajojing (berjoget) di sebuah diskotik. Penggembosan itu mujarab: perolehan suara PPP merosot tajam.
Anehnya, istri GD, Shinta Nuriyah termasuk pennetang keras poligami. Ketika foto Gus Dur sedang memangku Aryanti dipublikasikan media massa, bukannya GD yang dicaci-maki, malah dibela mati-matian. Salah satu pembela GD adalah KH Cholil Bisri (sekarang sudah meninggal). Ketika diwawancarai majalah Panji Masyarakat edisi 13 September 2000, Cholil Bisri tidak saja menganggap perzinahan GD-Aryanti merupakan isapan jempol belaka, ia juga mengatakan, “Kalau foto pangku-pangkuan tidak mesti zina…
Parahnya lagi, Cholil Bisri yang gemar merokok ini justru menghakimi pihak yang menyebarkan foto GD sebagai pihak yang berdosa. Sedangkan GD, bila sudah bertobat, maka menurut Cholil, “… ya seperti orang tidak punya dosa…” Cholil kala itu menduga, pelaku penyebaran foto GD-Aryanti adalah orang-orang PAN dan PPP. Bahkan ia berkata, “… Kalau aku sih, tak santet kabeh orang-orang itu…
Astaghfirullah … Demi membela perzinahan GD, Cholil Bisri tidak sungkan-sungkan mengumpat dengan ucapan yang disenangi syaithan dan sangat dibenci Allah. Benar-benar kesetanan.
Nikah Semalam Gaya Kyai
Barangkali itulah salah satu penyebab lunturnya kepercayaan dan penghargaan masyarakat terhadap sosok Kyai di zaman ini. Sehingga, ketika Juli 2006 lalu ulama NU menerbitkan fatwa haram untuk infotainmen di TV, tidak digubris, malah dilecehkan dengan sebutan “kurang kerjaan”. Salah satu motor bagi diterbitkannya fatwa haram itu adalah Said Agil Siradj, yang juga salah seorang pendukung fanatik GD, dan salah satu sosok yang pernah difatwakan sesat oleh sejumlah ulama.
Di lingkungan NU masih banyak kyai yang menjadi pendukung fanatik GD, salah satunya adalah sosok kyai yang pernah menghebohkan dengan kasus perkawinan seharinya. Majalah berita mingguan GATRA edisi 13 April 1996, pernah memuat cover story dengan judul “Heboh Perkawinan Seorang Kiai”. Sosok kyai yang dimaksud adalah Noer Muhammad Iskandar SQ pimpinan pondok pesantren Assiddiqiyah, Kebon Jeruk (Jakarta Barat).
Lelaki beristri dua kelahiran Banyuwangi 5 Juli 1955 ini, pernah melakukan nikah semalam dengan Dewi Wardah (ketika itu berusia 42 tahun), janda Amir Biki (tokoh kasus Tanjung Priok, yang tewas pada saat terjadi bentrokan dengan aparat 12 September 1984. Peristiwa itu terjadi 19 April 1995, di hotel Equatorial, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Perzinahan berkedok nikah semalam ini, bermula ketika sang kyai menelepon Dewi Wardah untuk menyaksikan acara manasik haji di hotel itu. Dewi pun datang memenuhi undangan sang kyai. Sewaktu acara manasik masih berlangsung, Dewi Wardah diajak masuk ke kamar hotel, dan dirayu sang kiai untuk menjadi istri ketiganya, dengan janji manis akan membiayai anaknya yang menempuh pendidikan di pesantren pimpinan sang kyai. Meski terkejut, Dewi Wardah akhirnya oke saja. Waktu itu Dewi meminta agar bapaknya diberitahu tentang rencana pernikahan ini, namun sang kyai mengatakan tak perlu wali, tak perlu saksi.
Setelah Dewi mengatakan bersedia dinikahi, sang kyai turun ke lantai bawah hotel untuk memberi ceramah. Dewi ketika itu tetap berada di dalam kamar sendirian. Beberapa lama kemudian, sang kyai datang bersama seorang lelaki sebagai wali nikah. Sang lelaki kemudian menjabat tangan sang kyai seraya mengucapkan serentetan kalimat dalam bahasa Arab, antara lain ada penggalan kata qobiltu nikahaha… yang diingat Dewi. Itulah prosesi pernikahan semalam yang dilakukan Noer Muhammad Iskandar dengan Dewi Wardah yang disaksikan seorang lelaki yang tidak dikenal Dewi, sekaligus menjadi wali bagi Dewi. Tidak ada mahar. Tidak orang lain selain mereka bertiga.
Usai ‘menikahkan’ Dewi-Noer Iskandar, sang lelaki pun ngeloyor pergi. Sedangkan Dewi dan Noer Iskandar berdua bagaikan suami-isteri di dalam kamar hotel itu. Pasca ‘malam madu’ sekejap itu, Dewi tak lagi berjumpa dengan sang kyai, barulah pada September 1995 mereka bertemu, disaksikan orangtua Dewi. Ketika itu Dewi minta cerai, dan mendesak sang kyai untuk membuat surat cerai di atas kertas segel, sebagai bukti mereka pernah terikat suami-istri. Akhirnya, pada 11 Oktober 1995 Dewi diberi surat cerai dan uang tunai sebesar Rp 5 juta.
Hotel tempat Dewi Wardah dan Noer Iskandar ‘kawin semalam’ itu adalah tempat yang sama ketika GD-Aryanti berhubungan mesum. Kisaran tahunnya juga sama. Nampaknya GD-Noer Iskandar ibarat dua sosok dengan satu jiwa. Buktinya, ketika GD didemo rakyat untuk mundur dari jabatannya sebagai Presiden RI kala itu, Noer Muhammad Iskandar tampil sebagai salah satu pembela yang paling gigih, sampai-sampai ia mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang memalukan dan memuakkan. Hal itu dilakukan Noer Iskandar ketika ia berpidato di Desa Karang Tanjung, Kebumen, 12 Januari 2001, di hadapan warga NU setempat.
Selingkuh Berselimut Fitnah
Alasan pembelaan Noer Iskandar, karena GD merupakan wakil ulama, maka siapa saja yang membela GD dan mati karenanya, maka orang itu akan memperoleh nilai tambah untuk masuk surga. Sebaliknya, Amien Rais dan Akbar Tanjung beserta konco-konconya itu mesti dilawan, karena hakekatnya sama dengan melawan orang kafir. “… kalau Anda mati lawan Samandiyah-Samandiyah itu, Anda mati lawan Amien Rais dan konco-konconya, Anda mati lawan Akbar Tanjung dan konco-konconya, Anda masih mendapat kredit point, masuk surga karena Anda membela ulama…” Begitulah provokasi Noer kepada jamaah NU. Yang dimaksud dengan Samandiyah adalah pelesetan atau pelecehan terhadap ormas Muhammadiyah. Provokasi biasanya mengandung muatan fitnah, dan merupakan perbuatan yang sangat disenangi kalangan syetan dan iblis.
Dari kalangan intern keluarga GD sendiri, ada pembelaan yang meniru gaya orang kafir. Yaitu datangnya dari dokter Umar Wahid (dokter spesialis paru-paru), adik nomor empat Gus Dur, yang ketika itu menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Pasar Rebo dan Ketua Tim Dokter Kepresidenan.
Menurut pengakuan Zarima Mirafsur kepada majalah GAMMA edisi 21-27 Februari 2001, dua pekan sebelum kasus Aryanti Boru Sitepu yang dihebohkan berfoto dengan Gus Dur meledak, ia pernah dibesuk adik GD itu. Ternyata, dokter Umar Wahid ketika itu sedang merancang sebuah rekayasa fitnah. Yang dijadikan sasaran fitnahnya adalah Amien Rais, yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), sekaligus sebagai Ketua MPR RI. Nampaknya, keluarga, kerabat dan orang-orang di sekitar GD sudah memperkirakan akan muncul kehebohan yang bersumber dari perzinahan GD di masa lalu. Maka, mereka pun berupaya membelokkan perhatian dengan berupaya memunculkan gosip tandingan, dengan cara meminta Zarima mengakui anak yang baru dilahirkannya adalah hasil hubungan gelap dengan Amien Rais.
Mereka sama sekali tidak berterimakasih. Padahal, Amien Rais merupakan tokoh yang paling berjasa menaikkan GD ke kursi Presiden, meski GD sama sekali tidak punya andil di dalam menumbangkan rezim Soeharto. Jangankan berterimakasih, mereka justru hendak menjadikan Amien Rais sebagai sasaran fitnah untuk membela perzinahan GD yang kala itu akan terbongkar. Namun rekayasa Allah jualah yang menang. Akhlaq mereka sudah persis akhlaq Yahudi yang tidak tahu terimakasih. Ketika Yahudi diusir Nasrani dari Eropa, mereka berlindung di negara-negara Islam. Namun, kini Yahudi-yahudi itu bersama-sama Nasrani justru memerangi Islam. Betul-betul kurang ajar.
Zarima yang dijuluki Ratu Ekstasi ini, ternyata tidak hanya terkait dengan kasus narkoba, namun juga membuat heboh dengan kehamilan di luar nikahnya, kemudian ia melahirkan bayi perempuan tanpa diketahui siapa bapak biologisnya. Bayi perempuan itu kemudian diberi nama Nikita. Kepada majalah berita mingguan GAMMA edisi 21-27 Februari 2001, Zarima menuturkan: “Saya sendiri tidak menyangka bahwa yang datang tersebut adalah adik Gus Dur. Dia menawarkan uang kepada saya sebesar Rp 5 milyar agar saya mau mengatakan bahwa anak yang dilahirkan itu merupakan anak dari Amien Rais. Selain itu, saya dijanjikan bebas dan disuruh kabur ke luar negeri.
Kemudian, Zarima membicarakan tawaran Umar Wahid itu kepada guru mengajinya, Ibu Meita Farida. “… Bu Meita bilang bahwa perbuatan itu fitnah. Kalau kamu tidak melakukan, mengapa harus menuduh Amien Rais. Kasihan keluarga Amien jika dituduh begitu. Kok, tanggung-tanggung menuduh orang. Sekalian saja sebut George Bush. Setelah dinasihati, saya sadar dan tidak mungkin saya lakukan…
Menurut Zarima pula, setelah Umar Wahid tidak berhasil memperoleh kesepakatan apapun dengan dirinya, muncul sosok laki-laki lain yang mengaku sebagai keponakan Gus Dur. Laki-laki itu datang dengan maksud yang sama.
Begitulah bila para pengikut syaithan saling tolong-menolong di dalam kemungkaran. Mereka tidak hanya mengkultuskan Gus Dur tetapi juga memperalat Islam dan merusak ayat suci untuk disesuaikan dengan hawa nafsunya, membuat rekayasa, membuat fitnah untuk mereguk kenikmatan duniawi di atas penderitaan orang lain. Bagi yang paham, rencana rekayasa bermuatan fitnah yang dirancang Umar Wahid dua pekan sebelum foto mesra GD-Aryanti meledak, terlihat begitu tidak cerdas. Karena, meski saat itu bahkan hingga kini Zarima tidak pernah mengatakan siapa bapak biologis dari anak perempuan yang dilahirkannya, publik sudah punya jawaban. Dan tentu saja sosok yang ditutup-tutupi itu sama sekali jauh dari sosok Amien Rais.
Sebagai gambaran, selama di penjara salah satu kesibukan Zarima adalah membuat rekaman lagu. Setiap ke studio rekaman, Zarima dibesuk anak balitanya Nikita yang selalu berada dalam gendongan Nina istri Gories Mere yang saat itu (tahun 2001) berpangkat Komisaris Besar (Kombes) Polisi dan menjabat Wakapolda NTB. Nikita memanggil Nina dengan sebutan Mami. Selama Zarima di tahanan, Nina yang merawat Nikita seperti anak sendiri.
Gories Mere adalah perwira menengah yang menjemput Zarima dari Amerika Serikat dalam kasus ekstasi tahun 1996. Ketika itu Gories Mere masih berpangkat Letnan Kolonel (kini istilah itu diganti menjadi Ajun Komisaris Besar, AKBP), dan menjabat sebagai Sekretaris Direktorat Reserse Polda Metro Jaya. Kini, Gories Mere adalah perwira tinggi dengan bintang dua (Irjenpol) menjabat Waka Bareskrim Polri merangkap Ketua Satgas Densus 88 Anti Teror Mabes Polri.
GAYA HIDUP ZINA MENGUNDANG BENCANA (bagian 3)
Oleh : Redaksi 09 Feb 2007 – 12:12 am
Faridah binti Abdullah Rahman (biasa disapa dengan panggilan Ida), adalah WNI asal Lombok. Ia mulai menuliskan pengakuannya pada Agustus 2004, namun baru menyeruak ke tengah masyarakat awal Oktober, setelah beberapa media cetak dan media online mempublikasikannya. Pada tahun 2001, Ida berangkat ke Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga (PRT), dan bekerja di rumah keluarga Samih Al-Khadra di Jeddah. Majikannya ramah dan penuh perhatian. Setahun kemudian, ketika anak perempuan majikannya, Eman Al-Khadra, yang tinggal di Boston-AS melahirkan, Ida dikirim ke Boston. Di tempat barunya, Ida sering ditampar dan dipukul. Tidur di atas lantai, dan gaji 300 dolar per bulan tak pernah dibayar penuh.
Empat bulan menanggung derita, Ida tak tahan dan minta pulang. Namun sang majikan tidak memberinya uang. Karena kalut, Ida pun nekat melarikan diri. Ketika itu, Desember 2002, di Boston sedang berlangsung musim dingin yang hebat. Ida terlunta-lunta. Untunglah ia ditolong seorang wanita bernama Fiora Houghtelling dan membawa Ida pulang ke rumahnya. Setelah kondisi Ida pulih, Fiora menelepon KJRI di New York, diterima oleh staf konsulat bernama Pinna Silaen. Pinna lalu membawa Ida ke rumah adik iparnya, Kris Karto yang kebetulan butuh pembantu. Ida lalu bekerja pada keluarga Kris Karto.
Baru seminggu bekerja di rumah Kris Karto, Ida jatuh cinta kepada James Stover, tetangga majikannya. Cinta itu disambut hangat, dan bahkan James berjanji akan mengawini Ida. Dengan syarat, Ida harus melayani orang lain dengan bayaran. James dan rekannya, David Stover, menjadi calo dan bertugas mencari pelanggan asal AS. Calo lainnya adalah Sahat Simanjuntak dan Robert Silaen dari Indonesia yang bertugas mencari pelanggan kalangan orang Indonesia. Robert pula yang menurut kisah Ida membawa pejabat dari KJRI pada sekitar Maret 2003 dan meminta layanan mesumnya.
Lambat laun barulah Ida menyadari bahwa dia ditipu James Stover dkk. Tak ada sepeser pun uang yang diterimanya. Padahal, sejak awal tahun 2003 hingga April 2004 Ida sudah banyak melayani lelaki hidung belang, termasuk 41 staf dan diplomat KJRI serta tokoh Gereja di sana. Kasus ini kemudian dilaporkan majikan Ida, Kris Karto, ke polisi setempat. Sebelumnya Ida sudah mengadukan kasusnya ke KJRI namun KJRI New York tidak melakukan upaya yang memadai untuk melindunginya lebih lanjut.
Bahkan, ustadz Syamsi Ali tokoh masyarakat Indonesia di New York pernah diminta langsung menyaksikan pengakuan Ida di rumah Kris Karto. Setelah mendengar pengakuan Ida, ustadz Syamsi Ali langsung mendatangi KJRI untuk menanyakan kebenaran semua itu. Pejabat KJRI mengingkari dan menganggap itu adalah muslihat aktor intelektual untuk menjerat mereka yang tertuduh untuk memberikan uang.
Padahal keinginan Ida ketika itu cuma satu, yaitu pihak KJRI mau menolong Ida pulang ke Indonesia. Kalau pihak KJRI sigap, tanggap dan segera memulangkan Ida ke kampung asalnya saat itu, niscaya skandal seks mereka tak terungkap. Begitulah watak pejabat yang rusak akhlaqnya, mereka maunya dilayani bukan melayani. Kasus itu kini lenyap bagai ditelan bumi.
Pimpinan Parpol dan Artis
Menjelang akhir Maret 2006, mencuat sebuah kabar tak sedap tentang perzinahan antara SoetrisnoBachir (SB) Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) dengan artis Nia Paramitha (yang ketika itu masih menjadi isteri Gusti Randa). Ketika itu, 30 Maret 2006, SB disebut-sebut telah berselingkuh hingga membuahkan kehamilan bagi Nia Paramitha. Tapi, SB membantah isu ini, bahkan dia merasa difitnah.
Nia Paramitha ketika itu juga telah membantah keras tentang skandal seksnya dengan SB. Bantahan tersebut disampaikan Nia di hadapan mantan Ketua Umum PAN Amien Rais dan SB, di rumah SB di kawasan Pondok Indah. Sebelumnya, Amien Rais pernah didatangi Gusti Randa. Kepada Amien, Gusti melaporkan tentang hubungan SB dengan Nia yang mengakibatkan Nia Hamil.
Karena tak mau termakan isu, Amien Rais kemudian mempertemukan Nia dan SB. Dalam pertemuan itu, Amien menanyakan kepada Nia apakah benar SB telah menghamili dirinya. Secara terbuka Nia ketika itu membantah keras tudingan suaminya.
Selain SB, ada nama lain tokoh PAN yang diisukan sebagai lelaki yang menghamili Nia, yaitu Andi Harun, Ketua DPW PAN Kalimantan Timur yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur. Nama Andi Harun bahkan sudah disebut-sebut sebelum nama SB muncul. Andi Harun sudah terbang ke Jakarta untuk bertemu dengan Gustiranda dan pengacaranya. Dalam pertemuan itu, ada kesepakatan bahwa Andi Harun bukanlah orang yang menghamili Nia.
Isu skandal seks yang menyerempet SB ini berawal dari gugatan cerai Gusti Randa terhadap Nia. Gugatan cerai Gusti Randa telah didaftarkan ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Rabu (29/3/2006). Pasangan ini telah menikah selama 9 tahun dan dikarunia empat orang anak yang masih kecil-kecil. Gusti Randa mulai mencurigai Nia memiliki pria idaman lain (PIL) sejak Nia keguguran (bleeding) beberapa waktu lalu. Kabarnya, Gustiranda sudah melakukan vasektomi, sehingga meski Gusti tetap berhubungan intim, istrinya tidak bisa hamil.
Meski Soetrisno Bachir dan Nia Paramita berusaha keras menutup-nutupi kasus perzinahannya, namun publik sudah tidak bisa dibohongi lagi. Apalagi Nia termasuk sosok yang tidak bisa tahan berlama-lama menyimpan kebohongan.
Nia Paramitha tentu bukan satu-satunya artis yang terlibat kasus perselingkuhan seperti itu. Sebelumnya ada kasus serupa yang terjadi antara Reza Artamevia (yang saat itu masih menjadi istri sah Adjie Massaid) dengan mantan pejabat BPPN I Gde Ari Sutha. Adjie-Reza yang menikah Februari 1999, mengakhiri drama rumah tangganya di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, 18 Januari 2005, setelah hakim memutuskan untuk mengabulkan pemintaan Reza untuk bercerai.
Selain Reza, artis Elma Theana juga dikabarkan pernah berselingkuh dengan pengusaha Julianda Barus. Elma yang kala itu masih berstatus istri Fary Indarto, pada mulanya membantah tuduhan berselingkuh. Demikian juga dengan Julianda Barus yang menggelar jumpa pers didampingi istrinya. Belakangan, setelah Elma-Fary resmi bercerai, Julianda Barus dan Elma Theana justru menikah. Mereka seperti menjilat ludahnya sendiri.
Perselingkuhan (zinah) bagi kalangan artis nampaknya sudah biasa. Selain selingkuh di kalangan artis juga dikenal free sex dan kumpul kebo (hidup seatap tanpa nikah), sebagaimana dilakoni secara demonstratif oleh Steve Emmanuel (Nasrani) dengan Andi Soraya (Islam). Keduanya artis sinetron dan bintang iklan yang cukup terkenal. Hubungan kumpul kebo mereka menghasilkan seorang anak yang kini masih balita. Anehnya, hubungan kumpul kebo mereka tidak pernah diributkan para aktivis perempuan, berbeda dengan ketika Abdullah Gymnastiar berpoligami.

Yahya Zaini-Maria Eva
Sebelum kasus video mesum YZ-ME merebak, kasus amoral berkaitan pesta seks alias perzinahan sudah lebih dulu terjadi di Cianjur. Pelakunya seorang guru SMU Negeri Cianjur dengan inisial DD. Sang guru ini dalam melakukan pesta seks melibatkan murid SMU tempat ia mengajar, berinisial YN. Menurut penuturan seorang guru, YN terseret pesta seks gara-gara YN meminta uang kepada DD. Sebagai imbalannya, DD mengajak YN dengan dua orang teman perempuannya ke Cipanas. Di sana, DD yang membawa tiga temannya itu memaksa YN dan teman-temannya untuk minum minuman keras dan menghisap ganja. Tiga orang teman DD juga melakukan kekerasan seks kepada dua orang teman YN. Peristiwa ini terjadi sekitar pertengahan November 2006.
Beberapa saat sebelumnya, Kepala Sekolah SMU Negeri Cianjur pernah memecat sebelas murid karena melakukan aksi mesum di lingkungan sekolah. Menurut pengakuan seorang pelaku aksi mesum, di sekolah itu ada beberapa siswi yang sudah ‘menjual’ dirinya kepada seorang lelaki hidung belang lebih dari sekali. Gilanya, aksi ini turut melibatkan guru mereka sendiri di sekolah tersebut.
Menjelang akhir November 2006, ketika kasus lumpur Lapindo di Sidoardjo masih belum bisa diatasi, muncul isu panas soal beredarnya video mesum yang merekam perzinahan Yahya Zaini dengan Maria Eva. Meski durasinya terbilang pendek, video berisi adegan hot itu membuat orang terbelalak.
Yahya Zaini adalah anggota DPR dari partai Golkar, yang kampung halamannya tidak jauh dari Sidoardjo. Di Golkar, Yahya Zaini menjabat sebagai Ketua Bidang Kerohanian DPP Partai Golkar dan Sekretaris Fraksi Partai Golkar di DPR RI. Kabarnya, akan dicalonkan sebagai Menteri Agama juga. Sedangkan Maria Eva partner berzinah YZ berasal dari Sidoardjo, mantan wakil Bendahara AMPI (ormas kepemudaan underbouw Golkar) ini, sebelumnya hanyalah penyanyi dangdut yang tidak terkenal.
Hubungan intim YZ dan ME mulai terjadi saat kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif 2004 lalu, ketika itu ME menjadi artis penghibur dalam kampanye Golkar di berbagai tempat, sedangkan YZ merupakan salah satu juru kampanye. Meski belum kondang, ME pernah meluncurkan sebuah album bertajuk Pelangi Senja. Peluncuran album pertama ME itu berlangsung di sebuah hotel berkelas di Jakarta tahun 2005 lalu, dan dihadiri beberapa pejabat dan petinggi partai Golkar, termasuk YZ tentunya.
Dari perzinahannya dengan YZ, ME pernah hamil, kemudian atas desakan isteri YZ, Ir. Sharmila Msi, dan atas biaya YZ kandungan itu digugurkan. YZ sendiri yang mengantarkan ME ke tempat aborsi. Peristiwa itu terjadi bulan Desember 2004.
Video mesum YZ-ME ternyata beredar luas, dan dikonsumsi oleh generasi muda kita. Di antaranya adalah Ahmad Fuadi (17 tahun, pelajar STM kelas dua di Jakarta), yang menonton video mesum itu bersama pacarnya Agustin Kharisma (18 tahun, mahasiswi tingkat I di STIE Nusantara, Jakarta). Setelah menyaksikan tayangan porno itu, keduanya terinspirasi untuk melakukan adegan mesum. Perbuatan terlarang itu setelah dilakukan beberapa kali akhirnya ketahuan, kemudian orangtua Agustin melaporkan Fuadi ke Polsek Cilincing, Jalan Sungai Landak, Jakarta Utara. Fuadi dikenai pasal pencabulan, pasal 289 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun. Ternyata, dalam tempo relatif singkat, perbuatan zina YZ-ME yang direkam dan disebarluaskan sekelompok orang, telah menghasilkan pengikut dan korban. Tentunya YZ dan ME ikut kebagian dosa yang diperbuat oleh orang-orang yang berzina karena terinspirasi video mesum mereka.
Skandal seks Yahya Zaini merupakan puncak gunung es dari dekadensi moral di DPR dan di kalangan pejabat negeri ini pada umumnya. Sejumlah anggota DPR meyakini adanya skandal seks antara anggota DPR RI dengan perempuan-perempuan cantik yang bukan istri mereka. Banyak anggota DPR pria yang dikelilingi wanita cantik. Bahkan, ada seorang anggota DPR yang mendapat cap playboy. Kehadiran pelacur di DPR karena memang ada germo-germo yang secara khusus memasok mereka ke lingkungan tersebut. Mereka, para pemasok perempuan untuk para wakil rakyat ini, sudah sangat kawakan di kompleks DPR sampai-sampai tahu selera orang per orang.
Maha Benar Allah SWT yang telah berfirman: “Jika Kami hendak menghancurkan suatu negeri, maka Kami perintahkan pada para pemimpin di negeri itu supaya mentaati Allah, tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al-Isra’, 16).
Allah Rabbul Alamin memberi kesaksian bahwa para pemimpin adalah orang-orang yang paling bertanggung jawab terhadap kerusakan dan penyelewengan di berbagai penjuru negeri yang mengakibatkan lahirnya kemungkaran kolektif dan malapetaka yang merata. Sampai kapan rakyat Indonesia dapat menyadari hal ini? Bukan mustahil, penolakan RUU APP, mengindikasikan masih banyak pejabat yang terlibat hubungan mesum.
Rasulullah SAW bersabda: “Bila Allah Azza wa Jalla murka kepada suatu kaum, maka kaum itu akan ditimpa adzab. Harga-harga barang menjadi mahal, kemakmurannya menjadi surut, perdagangannya tidak mendapatkan untung, hujan sangat jarang turun, sungai-sungainya tidak mengalir, dan penguasanya adalah orang-orang yang rusak akhlaknya” (HR Dailami dan Ibnu Najjar).
(Dari Berbagai Sumber)
Majalah RISALAH MUJAHIDIN No. 5 Th I Muharram 1428 H / Februari 2007, hal. 32-34.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar